MediaMerdeka.com – Presiden Prabowo Subianto diminta mengurangi pernyataan yang memicu sentimen negatif dan makin peka terhadap aspirasi masyarakat sekitar apabila ingin mempertahankan peluang politiknya pada Pilpres 2029.
Selain memperbaiki komunikasi publik, Prabowo juga perlu menjaga soliditas partai-partai pendukung pihak pemerintah agar tidak kehilangan dukungan menjelang kontestasi politik mendatang.
Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah menilai, upaya menjaga reputasi politik Prabowo wajib dimengawali bersama mendengarkan harapan publik, terutama di tengah tuntutan perbaikan ekonomi dan penegakan hukum.
“Kalau Presiden Prabowo Subianto mau mendengarkan apa yang diharapkan oleh publik, tidak lagi sejumlah menciptakan kekhawatiran, termasuk juga mengurangi statement-statement yang memunculkan sentimen negatif, itu saya kira dapat menjadi solusi memperbaiki reputasi ke depan,” ujarnya dalam sesi rilis survei dan diskusi publik secara daring, Sabtu (24/10/2026).
Menurut Dedi, komunikasi yang makin terukur dapat menolong Prabowo menjaga kepercayaan masyarakat sekitar.
Namun, upaya mempertahankan posisi politik tidak cukup cuma bersama memperbaiki citra. Prabowo juga perlu mengonfirmasi partai-partai koalisinya tetap berada dalam barisan pendukung hingga Pilpres 2029.
Dedi menilai, tidak seluruh partai pendukung pihak pemerintah memiliki tingkat loyalitas yang sama. Seuntukan partai cenderung mempertahankan dukungan, sementara yang lain akan mempertimbangkan peluang kemenangan dalam menentukan arah politiknya.
“Saya kira salah satu partai koalisi yang setia bersama Prabowo Subianto merupakan PAN. Yang kedua barangkali Golkar. Kenapa? Karena Golkar sejauh ini merupakan partai yang cukup rasional secara politis. Artinya rasional secara politis merupakan mereka besar kebarangkalian akan masuk dalam gerbong yang punya potensi menang,” papar Dedi.
Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Golkar dinilai berpotensi tetap mendukung Prabowo selama peluang politiknya masih menjanapabilan.
Sementara itu, dukungan dari partai lain, bagaikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Demokrat, juga menjadi faktor penting dalam menjaga kekuatan koalisi.
Koalisi Prabowo Terancam Berubah Jelang 2029
Dedi mengingatkan, peta koalisi pendukung Prabowo berpotensi berubah menjelang Pilpres 2029. Jika sejumlah partai memilih keluar dari koalisi atau membentuk poros politik sendiri, langkah Prabowo demi kembali maju sebagai calon kepala negara dapat semakin berat.
“Akan terjadi perubahan besar bila lalu partai koalisi yang kini dekat atau yang kini mendukung Presiden Prabowo Subianto, barangkali di tahun di 2028-nya, bila di 2028 nanti atau 2027 lah, tiba-tiba terjadi perubahan, Demokrat mengundurkan diri, lalu PKB misalnya menciptakan poros sendiri, ya tentu akan semakin sulit dan semakin berat,” sorotnya.
Karena itu, menurut Dedi, Prabowo perlu menjaga komunikasi politik bersama para mitra koalisi sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat sekitar.
Kedua hal tersebut akan menjadi modal penting demi mempertahankan dukungan hingga tahapan pencalonan kepala negara dimengawali.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

