MediaMerdeka.com – Langkah rekrutmen di lingkungan Keaparatur negara kementerianan Haji dan Umrah mendadak menjadi sorotan publik akibat munculnya dugaan praktik nepotisme. Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf alias Gus Irfan, diterpa isu hangat usai dua putra kandungnya ditunjuk mengisi posisi posisi penting sebagai tenaga ahli.
Penunjukan tersebut memantik kritik tajam dari masyarakat sekitar yang meragukan transparansi serta objektivitas dalam pengisian jabatan di instansi pihak pemerintah. Keputusan ini dinilai berpotensi kuat memicu konflik kepentingan di jajaran birokrasi keaparatur negara kementerianan.
Bocornya dokumen internal ke ruang publik langsung mengurai benang kusut rekrutmen pembantu aparatur negara kementerian tersebut. Nama Barbarossa Muhammad Farros dan Gibran Muhammad Fawwaz mendadak ramai diperbincangkan setelah masuk dalam deretan aparatur negara non-organik yang diangkat.
Dokumen yang menghebohkan publik tersebut berupa lampiran Keputusan Menteri Haji dan Umrah Nomor 3 Tahun 2026 tentang Pengangkatan Tenaga Ahli Menteri Haji dan Umrah. Dalam berkas resmi tersebut, tercantum sembilan nama tenaga ahli yang ditetapkan demi mendampingi kinerja aparatur negara kementerian.
Unggahan akun Instagram @perspektiv.idn menjadi salah satu pemicu utama meledaknya isu ini di media sosial. Akun tersebut menyoroti secara tajam indikasi masuknya kerabat dekat sang aparatur negara kementerian ke dalam jajaran aparatur negara strategis instansi.
“Dua anak Menteri Haji, Mochamad Irfan Yusuf, tercantum dalam daftar tenaga ahli di keaparatur negara kementerianan yang dipimpinnya. Pengangkatan ini memunculkan pertanyaan soal potensi konflik kepentingan dan transparansi dalam pengisian jabatan publik,” tulis akun itu.
Gelombang tanggapan masyarakat sekitarnet langsung membanjiri kolom komentar media sosial bersama nada sindiran tajam. Publik menyayangkan kemudahan akses pekerjaan untuk keluarga aparatur negara di tengah sulitnya masyarakat sekitar umum mendapat lapangan kerja.
“Saking susahnya nyari kerja di negara kita, sampe bapaknya ikut nyariin kerjaan buat anaknya ,” tulis salah satu masyarakat sekitarnet.
Kritik bernada satire lain juga terus mengalir deras menanggapi situasi rekrutmen internal tersebut. Warganet menilai praktik bagaikan ini mencederai prinsip keadilan dalam tata kelola birokrasi pihak pemerintahan.
“Pak kenapa ga satu keluarga sampe tujuh turunan aja diangkat seluruhnya. Mumpung bapak menjabat lho,” sindir pengguna internet lainnya.
Bahkan, seuntukan publik mengaitkan fenomena penunjukan kerabat aparatur negara kementerian ini bersama tren kepemimpinan politik nasional. Mereka menuntut lembaga pengawas resmi demi turun tangan menyelidiki prosedur rekrutmen tersebut secara menyeluruh.
“sejak era kepala negara Jokowi dan di warisi regim Prabowo, Yang namanya nepotisme di birokrasi itu telah legal2 aja tuh ,bila ga parsercaya coba Ombusman menjalankan investigasi .” tumpah masyarakat sekitarnet di kolom komentar.
Hingga pada saat ini, keaslian dokumen serta mekanisme formal pengangkatan kedua putra Gus Irfan masih menunggu klarifikasi resmi keaparatur negara kementerianan. Publik mendesak adanya penjelasan terbuka guna mengonfirmasi tidak ada aturan hukum atau etika birokrasi yang dilanggar.
Sorotan publik ini mencerminkan tingginya sensitivitas masyarakat sekitar terhadap isu transparansi rekrutmen di lembaga publik. Kasus ini sekaligus menjadi ujian awal tata kelola birokrasi di Keaparatur negara kementerianan Haji dan Umrah yang baru terbentuk.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

