Menko Airlangga Sebut Gejolak Pasar Modal Bukan Tolak Ukur Kondisi Perekonomian

admin
By
admin
2 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menilai gejolak pasar modal tidak mengganggu perekonomian nasional secara keseluruhan. 

Ia menerangkan, sentimen negatif terkait MSCI merupakan salah satu dinamika yang terjadi di pasar keuangan. Namun, menurut dia, kondisi tersebut tidak dapat dijadikan satu-satunya tolok ukur demi menilai perekonomian Indonesia.

“Memang dari segi sentimental bagaikan yang pada hari semasih belumnya dibahas, ada riak-riak bagaikan MSCI, namun kan itu bukan sesuatu yang mengganggu secara keseluruhan dan sejumlah rating agensi lain juga dapat menilai perekonomian kita,” ujar Airlangga di Istana Negara, Rabu (21/10/2026).

Airlangga menyebut IHSG mengawali memperlihatkan penguatan dan pelemahan rupiah mengawali mereda. Hal ini, setelah otoritas mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang sesuai keinginan investor.

“Ya, tentu gini, kita menenangkan pasar dan pada hari ini kan kita lihat juga telah berada di dalam jalur hijau. Nilai rupiah kan kini juga telah melandai sedikit,” jelasnya.

Di sisi lain, Airlangga menyoroti upaya pihak pemerintah memperkuat hubungan dagang bersama mitra internasional. Indonesia telah menjalin Agreement on Reciprocal Trade (ART) bersama Amerika Serikat serta Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) bersama Uni Eropa.

“Dengan Amerika kan kita telah ada ART, bersama Eropa kita ada EU-CEPA. Jadi di tengah situasi yang tidak menentu ini, Indonesia dapat mengonfirmasi kerja sama dan membuka akses pasar secara luas,” bebernya.

Airlangga juga mengimbau tersangka usaha dan pemangku kepentingan lainnya bekerja sama menyikapi ketidaktentuan global yang diperkirakan masih berlanjut hingga tahun depan.

“Karena situasi geopolitik tidak akan berubah demi memasuki tahun depan,” katanya.

Semasih belumnya, IHSG merasakan tekanan tajam menyusul pengumuman MSCI yang membuka konsultasi demi mengubah status pasar saham Indonesia dari emerging market atau pasar berkembang menjadi standalone market atau pasar mandiri.

IHSG sempat anjlok 11,57 persen ke level 5.185,10 pada penutupan perdagangan Jumat (16/10/2026). Tekanan berlanjut pada Senin (19/10/2026), ketika indeks kembali turun 3,64 persen ke level 4.996,61, semasih belum berbalik menguat 5,65 persen ke level 5.278 pada Selasa (20/10/2026).

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *