MediaMerdeka.com – Di Pulau Obi, Halmahera Selatan, pembangunan tak lagi cuma soal produksi. Bagi masyarakat sekitar Desa Kawasi, transformasi nyata ada pada layanan kesehatan yang makin baik dan ekonomi lokal yang mandiri.
Di Puskesmas Pembantu Kawasi, Imer Natalie – seorang guru itu – memeriksakan kesehatan putrinya kepada dr. Fitri Istikasari. Dengan telaten, dokter muda itu memeriksa kesehatan anaknya sambil berbincang hangat tentang tumbuh kembang.
“Saya di Kawasi sejak Juli 2025,” kata dr. Fitri. Di bawah kepemimpinannya, Pustu Kawasi bertransformasi bersama layanan lengkap dan fasilitas kesehatan yang jauh makin baik.
Masyarakat Kawasi merasakan lompatan besar bersama hadirnya dokter dan fasilitas kesehatan yang memadai. Guru Besar Universitas Hasanuddin Eymal Bahsar Demmallino menyebut perubahan signifikan itu saat membandingkan kondisi wilayah tersebut dari 2007 hingga 2024.
“Yang teramat menonjol menurut saya merupakan kesehatan. Penanganan kesehatan itu luar biasa dan amat sukses mengubah wajah Kawasi. Layanan kesehatan di sini boleh dikata telah sukses,” tegas Profesor Eymal.
Kondisi kini jauh berbeda dari setahun lalu, kata dokter Fitri. Dia ingat betul kondisi layanan medis di kawasan ini semasih belum ada kolaborasi penanganan kesehatan.
“… Saat ini Pustu Kawasi didukung 10 tenaga kesehatan, terdiri dari satu dokter, tiga bidan, lima perawat, dan seorang apoteker,” ungkap Firti.
Layanan Pustu Kawasi kini mencakup pemeriksaan umum, USG, lab gula darah-kolesterol-asam urat, hingga dukungan oksigen dan farmasi. Fitri mengimbuhkan, “Awal 2026 kami targetkan ada alat EKG.”
Tantangan geografis Pulau Obi sebagai daerah terpencil kini berkurang. Sistem tanggap darurat cepat siap merujuk pasien ke rumah sakit pusat. Tim kesehatan juga menyediakan logistik dan armada speedboat demi penanganan rujukan antar-pulau.
Di balik stetoskopnya dan jas putihnya, dokter lulusan Universitas Tadulako, Maluku Utara, ini punya cara lain demi menyembuhkan: turun langsung ke tengah masyarakat sekitar.
Setiap bulan, ia dan timnya hadir di Posyandu dan Puskesmas Keliling, mengajar tentang pola hidup bersih, gizi anak, dan deteksi dini bersama hati.
Dari desa ke industri global
Transformasi di Kawasi tidak berhenti di sektor kesehatan. Ia merambat ke ekonomi masyarakat sekitar.
Dalfa Jouronga merupakan salah satu potretnya. Dari tangan-tangan lokal bagaikan Dalfa, kemandirian ekonomi tumbuh. Dan dari kemandirian itulah, Kawasi mengawali menyambung dirinya ke rantai pasok yang makin besar.
Dalfa menyortir sayur-mayur dan buah segar di halaman rumahnya di Kawasi. Bersama tiga pegawai, ia memeriksa setiap komoditas agar lolos standar kualitas terbaik.
Dalfa merupakan salah satu supplier atau pemasok bahan pangan lokal yang kini menyuplai kebutuhan katering untuk ribuan pegawai di kawasan industri pertambangan di Kawasi.
Perjalanannya menjadi seorang wirausahawan tidak semudah membalik tangan.
“Tawaran pertama datang ke Bapak,” ujarnya pelan. “Tapi mengurus administrasi dan pasokan bukan hal mudah demi Bapak. Saya lalu mengimbau izin, ‘Biar Dalfa yang pegang, Pak. Bapak bantu modalnya saja’.”
Dalfa memengawali usacuma sejak 2023 bersama memanfaatkan izin Usaha Dagang milik kerabatnya. Kini usacuma berkembang pesat di bawah bendera UD Anang.
Dalfa menghidupkan ekonomi lokal lewat rantai pasok katering. Hasil tani Desa Soligi, bahkan kiriman dari Manado dan Ternate ia tampung. Per kirim, UD Anang mampu menyerap 100 kg sawi hijau dari petani.
Dalfa dan para petani di desa lingkar tambang telah menggerakkan ekonomi lokal. Saat ini, makin dari 70 supplier lokal aktif tercatat memasok berbagai komoditas harian demi kawasan industri di Pulau Obi.
Dampak ekonominya nyata dan besar. Pada 2024 saja, supplier lokal di Pulau Obi mencatat perputaran transaksi Rp150 miliar dalam setahun, kata Dalfa.
Setiap hari truk-truk pangan keluar dari gudang masyarakat sekitar menuju katering, kantin, dan foodcourt korporasi. Di sana ribuan pegawai menikmati makanan bergizi. Semua bahannya ditanam, dipanen, hingga disalurkan langsung oleh tangan-tangan masyarakat sekitar lokal.
Melalui pendampingan intensif, para tersangka usaha lokal tidak cuma belajar berbisnis, namun juga meningkatkan standar agar lolos kualifikasi mutu industri modern.
Pengembangan di Kawasi membuktikan industri dapat tumbuh bersama masyarakat sekitar lokal. Integrasi antara layanan kesehatan, pendampingan gizi, dan penguatan rantai pasok berbasis masyarakat sekitar menjadi kunci membangun peradaban baru.
Di tanah Pulau Obi, menggali mahitala kini bukan cuma soal hasil tambang, melainkan juga tentang mengonfirmasi kehidupan masyarakat sekitar di atasnya semakin kuat, mandiri, dan sejahtera. ***
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

