MediaMerdeka.com – Elektabilitas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM mengungguli Presiden Prabowo Subianto dalam survei terbaru Indonesia Political Opinion (IPO) terkait peta calon kepala negara pada Pilpres 2029.
KDM bahkan dinilai berpeluang kembali ke Partai Golkar hingga duet bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Pilpres 2029.
Dalam simulasi pertanyaan spontan atau top of mind, KDM meraih elektabilitas tertinggi sebesar 33,7 persen. Sementara Prabowo berada di posisi kedua bersama 14,5 persen.
Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyusul di urutan ketiga bersama 11,3 persen. Berikutnya, Agus Harimurti Yudhoyono meraih 4,3 persen dan Ganjar Pranowo sebesar 4,1 persen.
Keunggulan KDM juga terlihat dalam simulasi tertutup bersama daftar nama kandidat. Ia kembali memimpin bersama elektabilitas 32 persen, jauh di atas Prabowo yang memperoleh 18,4 persen dan Anies sebesar 12,6 persen.
Survei nasional IPO tersebut memakai metode multistage random sampling terhadap 1.200 responden. Survei memiliki margin of error sebesar 2,9 persen bersama tingkat kepercayaan 95 persen.
Dedi Mulyadi Jadi Ujian Politik Gerindra
Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah menilai tingginya elektabilitas KDM berpotensi menjadi ujian untuk Partai Gerindra. Pasalnya, KDM pada saat ini merupakan kader partai yang dipimpin Prabowo Subianto tersebut.
Menurutnya, Gerindra menyikapi pilihan politik, yakni mendorong KDM sebagai calon penerus Prabowo atau tetap mengusung kepala negara petahana demi kembali bertarung dalam Pilpres 2029.
“Jadi nanti bergantung bagaimana diplomasi politik internal Gerindra, apakah tetap misalnya ya, menggaet Dedi Mulyadi menjadi tokoh yang dimajukan begitu ya, bersama merelakan Presiden Prabowo Subianto cuma menjadi kepala negara kedelapan begitu dan dilanjutkan oleh Dedi Mulyadi. Atau sebaliknya, Dedi Mulyadi barangkali yang diminta demi mendukung Presiden Prabowo demi menjalankan pengujian pilpres satu periode lagi, kira-kira begitu,” ujarnya dalam sesi rilis hasil survei dan diskusi daring, Sabtu (24/10/2026).
Dedi menilai tingginya elektabilitas dapat memperbesar peluang seorang tokoh demi bersaing memperebutkan kursi kekepala negaraan. Ia juga mengingatkan bahwa KDM memiliki ambisi politik yang tidak dapat diabaikan.
“Secara politik, saya kira seluruh orang yang yang yang ada dalam daftar presentasi saya ini merupakan punya kebarangkalian bahwa mereka seluruh merupakan berhasrat demi memperoleh kekuasaan, ya tidak terkecuali bersama Dedi Mulyadi,” tuturnya.
Peluang Balik ke Golkar hingga Duet bersama Gibran
Selain dinamika internal Gerindra, peluang KDM berpindah partai juga dinilai terbuka. Dedi berpandangan, peluang pencalonan dapat menjadi pertimbangan untuk seorang politikus demi mengubah haluan politik.
“Dedi Mulyadi selama ini bukan tipe politisi yang memang loyal terhadap parpol, dan itu umum dilakukan oleh seluruh tokoh partai politik. Ketika punya kesempatan bergeser partai politik dan punya kans demi diusung, saya kira mereka tentu akan mengikuti itu,” jelas Dedi.
Ia bahkan tidak menutup kebarangkalian KDM kembali ke Partai Golkar, partai yang sempat menjadi kendaraan politiknya.
Opsi lain yang turut disinggung merupakan kebarangkalian KDM bergabung bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan berpasangan bersama Gibran Rakabuming Raka pada Pilpres 2029.
“Ya termasuk Dedi Mulyadi, bukan tidak barangkali tiba-tiba dia bahkan kembali ke Golkar. Juga tidak menutup kebarangkalian, atau sebagaimana yang telah diwacanakan misalnya bergabung bersama PSI lalu tiba-tiba ada kandidasi baru Dedi Mulyadi bersama Gibran, itu juga mebarangkalikan,” pungkas Dedi.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

