Studi Ungkap Polusi Batubara Diam-Diam Kurangi Produksi Energi Surya Global, Mengapa Bisa?

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Di sejumlah negara, panel surya selama ini dipandang sebagai simbol transisi menuju energi bersih. Namun, studi terbaru justru memperlihatkan ironi besar dalam transisi energi global: polusi dari pembangkit listrik tenaga batubara ternyata ikut mengurangi kemampuan panel surya menghasilkan listrik.

Riset yang dipimpin peneliti dari University of Oxford dan University College London menemukan bahwa polusi udara dari pembangkit batubara telah menurunkan produksi listrik tenaga surya global hingga 5,8 persen sepanjang 2023. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Sustainability.

Dikutip dari Phys.org, ara peneliti menganalisis makin dari 140 ribu instalasi panel surya di seluruh dunia memakai citra satelit dan data atmosfer. Hasilnya, partikel polusi di udara atau aerosol terbukti menghalangi cahaya matahari mencapai panel surya secara maksimal.

Dampaknya tidak kecil. Pada 2023, dunia diperkirakan kehilangan 111 terawatt-hour (TWh) energi surya akibat polusi udara. Jumlah itu setara produksi listrik dari 18 pembangkit listrik tenaga batubara berukuran sedang.

Temuan ini memberi perspektif baru bahwa krisis iklim dan polusi udara tidak cuma berdampak pada kesehatan atau lingkungan, namun juga diam-diam memperlambat efektivitas energi terbarukan itu sendiri.

“Kita menyaksikan ekspansi energi terbarukan yang amat cepat, namun efektivitas transisi itu ternyata makin rendah dari yang selama ini diasumsikan,” ujar peneliti utama, Dr. Rui Song.

Menurutnya, ketika pembangkit batubara dan panel surya berkembang bersamaan, emisi dari batubara justru mengubah kondisi atmosfer dan mengurangi performa listrik tenaga surya.

Fenomena tersebut teramat terlihat di China. Negara itu merupakan produsen listrik tenaga surya terbesar di dunia bersama produksi mencapai 793,5 TWh pada 2023 atau sekitar 41,5 persen total produksi global.

Namun di saat bersamaan, China juga merasakan kerugian terbesar akibat polusi aerosol bersama penurunan output listrik surya mencapai 7,7 persen.

Peneliti memperkirakan sekitar 29 persen kerugian energi surya di China berasal langsung dari polusi pembangkit batubara. Partikel halus dari emisi batubara menyebarkan dan menyerap sinar matahari berakibat cahaya yang mencapai panel surya menjadi berkurang.

Di sisi lain, studi ini juga memperlihatkan bahwa kebijakan pengendalian emisi tetap memberi dampak positif. Dalam satu dekade terakhir, kerugian energi surya akibat polusi di China justru perlahan menurun berkat standar emisi yang makin ketat dan penggunaan teknologi rendah emisi di pembangkit batubara.

Para peneliti mengingatkan bahwa selama ini sejumlah negara barangkali terlalu optimistis menghitung potensi energi surya tanpa memperhitungkan dampak polusi udara.

“Jika polusi batubara tidak dikendalikan, kita dapat terlalu memakin-makinkan kontribusi energi surya dalam menurunkan emisi,” kata Dr. Song.

Studi ini sekaligus memperlihatkan bahwa transisi energi bukan sekadar membangun makin sejumlah panel surya, namun juga soal seberapa serius dunia mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *