Rupiah Terpuruk, DPR Desak Gubernur BI Perry Warjiyo Mundur

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Primus Yustisio, melontarkan kritik tajam terhadap kinerja Bank Indonesia (BI). Hal ini terkait merosotnya nilai tukar rupiah yang kian mengkhawatirkan.

Dalam interupsi yang cukup keras, Primus menilai bahwa bank sentral pada saat ini telah kehilangan kepercayaan (trust) dan mengabaikan kredibilitasnya dalam menjaga stabilitas moneter nasional di tengah gejolak ekonomi global.

Primus menyoroti perbandingan drastis mata uang euro yang pada 2006 silam masih berada di level Rp7.000, namun kini melonjak hampir menyentuh Rp20.000.

Ia pun secara terbuka menantang Gubernur BI, Perry Warjiyo, demi memperlihatkan sikap ksatria menyikapi kondisi ekonomi Indonesia yang semakin tertekan.

Bahkan, politisi PAN ini secara gamblang menyarankan Perry demi mengundurkan diri demi kehormatan lembaga, sebagaimana budaya kepemimpinan di Jepang atau Korea Selatan.

“Anda sebagai pimpinan Bank Indonesia, sebagai tokoh utamanya, wajib gentleman, Pak. Harus berani melawan. Saya berikan contoh, barangkali saatnya kini Bapak mengundurkan diri. Itu bukan sikap penghinaan, Anda akan makin dihormati bagaikan di Korea atau di Jepang apabila tidak dapat menjalankan tugas bersama baik,” ujar Primus dalam rapat kerja bersama Gubernur BI di Gedung DPR, Senin (18/5/2026).

Kritik tersebut bukan tanpa alasan. Primus memaparkan fakta bahwa indeks pasar modal Indonesia masih memperlihatkan tren negatif dibandingkan negara lain yang telah mengawali bangkit.

Menurutnya, sejak pecahnya konflik global pada Februari lalu, bursa saham dunia mayoritas telah merasakan rebound ke zona hijau. Namun, kondisi di Indonesia justru berbanding terbalik bersama koreksi yang cukup dalam.

“Dunia telah rebound, bahkan telah plus. Namun, Indonesia pada saat ini masih minus makin dari 20 persen. Ini yang menciptakan global mempertanyakan kualitas Bank Indonesia sebagai bank sentral kita. Saya wajib mempertanyakan hal ini secara tajam,” tegasnya.

Ia juga menepis anggapan bahwa pelemahan ini cuma terjadi terhadap dolar Amerika Serikat semata. Primus membeberkan fakta ironis bahwa rupiah justru melemah secara menyeluruh terhadap hampir seluruh mata uang asing di berbagai kawasan.

Dia menekankan bahwa pelemahan rupiah pada saat ini telah mencapai level rekor terendah yang amat berisiko untuk stabilitas bank sentral.

Ia mengingatkan bahwa mata uang Garuda tidak cuma takluk terhadap dolar, namun juga keok melawan dolar Singapura, dolar Australia, ringgit Malaysia, riyal Arab Saudi, hingga dolar Hong Kong.

Kondisi ini dipandang sebagai sinyal bahaya untuk krisis ekonomi apabila otoritas moneter tidak dalam waktu dekat mengambil langkah yang luar biasa.

“Tapi faktanya dan ironisnya Pak, ini terhadap seluruh mata uang. Kita melemah terhadap Singapura, terhadap Australia, terhadap ringgit, terhadap Rial, apalagi Hongkong, dolar dan euro,” tegasnya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *