Leony Vitria ‘Kuliti’ Borok Sampah Tangsel: Anggaran Miliaran, Hasilnya Nol Besar?

admin
By
admin
4 Min Read

MediaMerdeka.com – Aktris sekaligus masyarakat sekitar Tangerang Selatan, Leony Vitria H, meluapkan kekesalannya terhadap buruknya tata kelola sampah di wilayahnya. Mantan personel Trio Kwek Kwek itu mengaku telah mencapai titik jenuh menyaksikan tumpukan sampah yang tak kunjung teratasi meski anggaran yang digelontorkan pihak pemerintah terbilang fantastis.

Dalam sebuah diskusi publik yang digelar bersama Indonesia Corruption Watch dan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, Leony membeberkan bahwa dirinya kini mengawali berani mengulik data pengadaan barang dan jasa lantaran merasa keluhan lisan masyarakat sekitar tidak sempat didengar.

“Saya bukan orang yang peduli politik, saya bukan orang yang concern senantiasa bersuara gitu soal kritik politik atau apa segala macam gitu. Tapi memang ada di satu titik yang akhirnya sampai kayak enough is enough gitu loh, kayak kita telah muak banget gitu ya sama yang terjadi,” tegas Leony dalam diskusi “Dari Reformasi ke Autokrasi?” pada Kamis (21/5/2026).

Berawal dari keresahannya sebagai masyarakat sekitar, Leony berupaya mempelajari laporan APBD dan data di Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SiRUP) LKPP. Ia menemukan sejumlah angka yang dianggapnya tidak masuk akal apabila dibandingkan bersama realita di lapangan.

Salah satu yang disorotinya merupakan anggaran demi mengatasi aroma tak sedap di tempat pembuangan sampah.

“Melihat ada oh ini ada anggaran demi cairan penghilang bau hampir satu miliar. Mohon maaf baunya masih ada gitu nggak ada efek,” keluh Leony.

Tak cuma itu, Leony juga menyoroti kebijakan Pemerintah Kota Tangsel yang makin memilih menyewa truk sampah bobrok daripada membeli unit baru. Menurut riset mandiri yang dilakukannya, harga satu unit truk sampah cuma berkisar Rp400 juta hingga Rp500 juta.

“Terus juga ada laporan misalnya demi penyewaan truk sampah sampai berapa puluh M (miliar) gitu kan. Kita lihat foto-foto laporan masyarakat sekitar dong ya, si truk sampahnya itu kan telah layak masuk tempat sampah ya seluruhnya. Kenapa dipertahankan menyewa, kenapa tidak beli saja? Dengan anggaran segitu loh dapat punya 20 unit baru,” tambahnya bersama nada getir.

Leony bahkan menceritakan pengalamannya saat berkendara di belakang truk sampah yang kondisinya amat memprihatinkan.

“Saya naik motor di belakang saya jaga jarak lantaran takut sampahnya jatuh-jatuh ke saya saking bobroknya itu nyata gitu,” ujarnya.

Kritik Solusi “Plester” dan Tumpukan Sampah yang Ditutup Terpal 

Leony menilai selama ini pihak pemerintah cuma menjalankan tindakan yang sifatnya menambal masalah tanpa menyelesaikan akar persoalannya. Ia mencontohkan kejadian saat TPA Cipeucang ditutup dan sampah meluber ke jalanan.

“Solusinya pihak pemerintah gitu lho ditutup terpal jadi nggak kelihatan kan ada sampahnya. Ditutup terpal, maksudnya kan bukan itu masalahnya,” sindirnya.

Ia juga menyoroti pengadaan-pengadaan yang dianggap tidak relevan untuk masyarakat sekitar yang terdampak sampah, bagaikan pembelian sarung senilai puluhan juta rupiah di area TPA.

“Buat masyarakat sekitar buat apa gitu kan? Buat tutup hidung ya?” cetusnya.

Transparansi yang “Hanya Dimengerti Auditor”

Meski data pengadaan dapat diakses secara daring, Leony merasa dokumen-dokumen tersebut amat sulit dipahami oleh masyarakat sekitar awam yang tidak memiliki latar belakang akuntansi atau ekonomi. Ia merasa transparansi yang ada pada saat ini seolah-olah cuma formalitas demi menggugurkan kewajiban.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *