Misbakhun: APBN Mustahil Bangkrut

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menyebutkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN mustahil bangkrut lantaran Indonesia merupakan negara kaya bersama sumber daya alam melimpah.

“Kalau ada yang menyebutkan APBN kita bangkrut, tidak barangkali kita bangkrut,” kata Misbakhun dalam sesi “1 on 1 Legislative” Jogja Financial Festival di Yogyakarta, Sabtu (23/5/2026).

Menurut dia, Indonesia masih memiliki berbagai komoditas unggulan yang menjadi kekuatan ekonomi nasional, mengawali dari kelapa sawit mentah (CPO), nikel, hingga hasil perkebunan dan kelautan.

“CPO 40 persen, nikel bahkan makin 60 persen, kita masih menghasilkan karet, kopi, damar, ikan laut. Negara sekaya Indonesia tidak barangkali menjadi negara yang bangkrut,” katanya.

Misbakhun mengimbuhkan bahwa masyarakat sekitar perlu memahami kondisi ekonomi secara rasional dan tidak mudah terpengaruh informasi yang menimbulkan ketakutan bermakinan terkait situasi ekonomi nasional.

Ia menuding bahwa peringatan soal perekonomian Indonesia yang sedang melemah pada saat ini merupakan ulah para influencer di media sosial semata.

“Kita berhadapan pada sebuah situasi antara realitas melawan media sosial. Jangan percaya begitu saja apa yang dilakukan influencer,” katanya.

Beda bersama Krisis 1998

Di saat yang sama Misbakhun mengakui bahwa kondisi perekonomian, terutama melemahnya nilai tukar rupiah memang benar terjadi. Tapi tak dapat disamakan bersama ketika krisis moneter di 1998.

“Kita wajib yakinkan kepada masyarakat sekitar Indonesia bahwa nilai rupiah atas dolar AS Rp17.800 itu memang sebuah fenomena. Angka yang amat tinggi demi pada saat ini, namun ingat rupiah pada saat ini barangkali sempat menyamai krisis 1998,” kata Misbakhun.

Menurut dia, pelemahan rupiah pada 1998 terjadi dari titik awal dan struktur ekonomi yang berbeda dibandingkan kondisi pada saat ini.

“Rupiah Rp17.500, Rp17.800 saat krisis 1998 itu berangkat dari angka Rp2.400. Rupiah kini berada pada level Rp16.600, itu berangkat dari Rp16.000 sekian. Situasi struktur ekonomi kita telah berbeda,” katanya.

Misbakhun menyebutkan pada 1998 sejumlah sektor merasakan tekanan berat, antara lain lantaran pinjaman dalam denominasi valuta asing dan praktik lindung nilai yang tidak memadai.

Ia menilai kondisi pada saat ini berbeda lantaran tekanan terhadap rupiah tidak serta-merta menciptakan sektor perbankan maupun swasta merasakan ketidak berhasilan bagaikan pada masa krisis 1998.

“Sekarang rupiah Rp17.600, masih belum ada perbankan atau swasta yang merasakan ketidak berhasilan. Tantangan pada saat ini bukan cuma menjaga stabilitas ekonomi, namun juga membangun pemahaman publik agar tidak mudah terpengaruh sentimen yang berkembang di media sosial,” katanya.

Menurut dia, persepsi masyarakat sekitar terhadap kondisi ekonomi dapat terbentuk dari informasi yang tidak senantiasa menggambarkan keadaan secara utuh.

“Sentimen kita itu ditentukan kini oleh media sosial. Cara pandang kita dipengaruhi oleh apa yang kita lihat di media sosial,” katanya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *