MediaMerdeka.com – PT Pertamina (Persero) berkomitmen terus memperkuat transformasi digital melalui implementasi Artificial Intelligence (AI) demi menciptakan nilai bisnis baru salah satunya peningkatan efektivitas operasional korporasi. Tak sebatas pemanfaatan teknologi, digitalisasi melalui AI diarahkan demi mampu menyerahkan dampak nyata terhadap performa bisnis dan operasi korporasi ke depan.
Hal tersebut disampaikan Senior Vice President (SVP) Pertamina Digital Hub, Ignatius Sigit Pratopo saat menjadi pembicara dalam acara Indonesian Petroleum Association Convention and Exhibition (IPA Convex) yang berlangsung di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Banten, (Jumat, 22/5/2026).
Sigit Pratopo menyebutkan, Pertamina juga menyesuaikan arah transformasi digital korporasi, bersama menempatkan value creation sebagai fokus utama dalam Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP). Langkah tersebut menjadi fondasi korporasi dalam membangun implementasi AI yang makin terukur, dan berdampak langsung terhadap bisnis.
“Dalam rencana tersebut, kami menetapkan target ambisius, yakni menyerahkan dampak EBITDA sebesar USD300 juta pada tahun 2027. Itulah yang menjadi visi kami,” bebernya.
Untuk mendukung target tersebut, lanjutnya, Pertamina mengembangkan program Digital Factory sebagai pendekatan transformasi digital end-to-end di seluruh lini bisnis korporasi. Konsep tersebut mencakup proses identifikasi pain point persoalan bisnis, pengembangan Minimum Viable Product (MVP), implementasi solusi digital analytics, hingga scale up implementasi ketika solusi terbukti menyerahkan hasil optimal.
Sigit mengimbuhkan, transformasi digital Pertamina dibangun bersama komitmen kuat dari level manajemen korporasi. Hal itu diwujudkan bersama membentuk fungsi khusus yang bertugas mengoordinasikan seluruh inisiatif digital analytics dan AI korporasi melalui Pertamina Digital Hub, dan menyerahkan laporan langsung kepada Direktur Utama.
“Pertamina membentuk fungsi khusus yang bertugas mengoordinasikan seluruh inisiatif digital analytics dan AI di korporasi. Saat ini fungsi tersebut dikenal sebagai Pertamina Digital Hub dan melapor langsung kepada CEO. Hal itu mencerminkan komitmen kuat korporasi,” jelasnya.
Menurut Sigit, implementasi AI di Pertamina tidak sekadar implementasi teknologi, melainkan solusi digital yang dikembangkan berdasarkan tantangan operasional yang dihadapi unit bisnis. Melalui program Digital Factory, Pertamina juga menjalankan pendalaman terhadap berbagai pain points bisnis semasih belum menentukan teknologi yang tepat demi digunakan, baik AI, machine learning, analytics, maupun solusi digital lainnya.
“Setelah konsep disepakati bersama bisnis, tim khusus atau squad akan mengembangkan MVP dan menghadirkan solusi digital analytics maupun AI tersebut. Selanjutnya, bisnis akan mengimplementasikan MVP tersebut, dan ketika terbukti sukses, kami menjalankan scale-up. Pada tahap itulah kami mengawali merealisasikan nilai bisnis yang nyata,” papar Sigit.
Lebih lanjut Sigit menegaskan bahwa Implementasi AI dan digital analytics yang dijalankan Pertamina mengawali memperlihatkan hasil signifikan dalam sejumlah tahun terakhir. Pada 2024, korporasi sukses menciptakan value creation makin dari USD 35 juta. Pada tahun 2025, Pertamina meningkatkan target menjadi USD50, bersama realisasi mencapai hampir USD80 juta.
Sementara di tahun 2026, masih menurut Sigit, Pertamina kembali menaikkan target value creation menjadi USD150 juta.
“Pada tahun 2026, kami juga mengawali menerapkan KPI untuk unit bisnis demi mengonfirmasi realisasi value creation dapat terukur bersama jelas. Itulah perjalanan yang sedang kami jalani pada saat ini,” kata Sigit.
Masih menurut Sigit Pratopo, transformasi digital Pertamina juga dilakukan secara menyeluruh di seluruh rantai nilai energi korporasi, mengawali dari upstream, midstream, downstream. Di sektor upstream, Pertamina telah memanfaatkan machine learning dan AI melalui program bagaikan ChanceX yang terbukti mampu meningkatkan rasio kesuksesan eksplorasi di salah satu basin hingga 10 persen.
Implementasi AI juga terus diperluas ke berbagai area strategis lain bagaikan drilling, optimasi produksi, reservoir management, dan berbagai operasi hulu lainnya.
“Kami juga terus memperluas implementasi AI di berbagai operasi upstream, termasuk drilling, optimasi produksi, reservoir management, dan berbagai area lainnya,” tutup Sigit.***
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

