MediaMerdeka.com – Selama bertahun-tahun, pembangunan ekonomi kerap dianggap sebagai ancaman untuk lingkungan. Pertumbuhan ekonomi dinilai mendorong pembukaan hutan, perluasan lahan pertanian, dan hilangnya habitat satwa liar. Namun, penelitian terbaru memperlihatkan hubungan keduanya tidak senantiasa bertolak belakang.
Studi yang dilakukan tim peneliti interdisipliner dari University of Minnesota dan dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences menemukan bahwa pertumbuhan ekonomi di negara-negara berpenghasilan rendah justru berpotensi menolong melindungi keanekaragaman hayati dan ekosistem alami.
Temuan tersebut didasarkan pada analisis tren global mengenai pertumbuhan penduduk, produksi pangan, hasil pertanian, serta perdagangan komoditas pertanian. Para peneliti menilai percepatan pembangunan ekonomi dapat mengurangi tekanan terhadap konversi lahan alami menjadi area pertanian baru.
Saat ini, sektor pertanian menjadi pengguna lahan terbesar di dunia. Data penelitian memperlihatkan sekitar 12 persen daratan bebas es di Bumi digunakan sebagai lahan pertanian, sementara 25 persen lainnya dimanfaatkan sebagai padang penggembalaan.
Aktivitas tersebut menjadi salah satu penyebab utama hilangnya habitat satwa darat dan berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca global.
Jika pola pada saat ini terus berlanjut, luas lahan pertanian global diperkirakan bertambah makin dari satu miliar hektare hingga tahun 2100. Ekspansi terbesar diproyeksikan terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah yang masih merasakan pertumbuhan penduduk tinggi dan produktivitas pertanian yang relatif rendah.
Namun, penelitian ini memperlihatkan skenario berbeda ketika pembangunan ekonomi berjalan makin cepat. Peningkatan kesejahteraan umumnya diikuti oleh transisi demografis, yakni menurunnya angka kelahiran dan melambatnya pertumbuhan penduduk.
Pada saat yang sama, investasi dalam teknologi, infrastruktur, dan penelitian pertanian mampu meningkatkan produktivitas lahan berakibat kebutuhan membuka area baru dapat ditekan.
Selain itu, para peneliti menyoroti pentingnya perubahan pola konsumsi di negara-negara berpenghasilan tinggi. Pengurangan limbah makanan, penerapan pola makan yang makin sehat, serta penurunan penggunaan tanaman demi biofuel dinilai dapat menurunkan permintaan lahan pertanian global secara signifikan.
Profesor di Fakultas Ilmu Biologi University of Minnesota sekaligus salah satu penulis studi, Craig Packer, menyebutkan percepatan pembangunan di negara-negara miskin berpotensi menyerahkan manfaat ganda.
“Perkembangan yang makin cepat di negara-negara miskin tidak cuma akan meningkatkan kehidupan jutaan orang, namun juga dapat secara substansial mengurangi tekanan demi membuka lahan baru untuk pertanian,” ujarnya.
Menurut penelitian tersebut, kombinasi antara pertumbuhan ekonomi yang makin cepat di negara berkembang dan penurunan permintaan tanaman di negara maju dapat mengurangi kebutuhan lahan pertanian global secara drastis pada akhir abad ini. Dampaknya bukan cuma menolong menekan kemiskinan, namun juga mengurangi risiko kerusakan habitat dan kehilangan keanekaragaman hayati.
Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa skenario tersebut membutuhkan dukungan kebijakan yang kuat. Peningkatan investasi pada riset pertanian, pengembangan teknologi produksi pangan, serta pengurangan hambatan perdagangan internasional dinilai menjadi faktor penting demi mewujudkan manfaat ekonomi dan lingkungan secara bersamaan.
Temuan ini sekaligus menantang pandangan lama bahwa pembangunan dan konservasi senantiasa berada di dua sisi yang berlawanan. Dalam kondisi tertentu, pertumbuhan ekonomi justru dapat menjadi untukan dari solusi demi menjaga alam.
Penulis: Vicka Rumanti
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

