Fenomena Mas Bahlil Ganteng, Kala Kritik di Media Sosial Berbalik Jadi Keuntungan Politik

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Lagu viral “Mas Bahlil Ganteng” atau MBG dinilai menjadi contoh bagaimana sarkasme di media sosial dapat berubah menjadi alat penguatan citra politik.

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Fajar Junaedi, menilai fenomena tersebut memperlihatkan cara kerja algoritma media sosial yang mampu mengubah kritik menjadi popularitas.

Menurut Fajar, pada awal kemunculannya lagu tersebut sejumlah dipahami sebagai bentuk sindiran terhadap Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia.

Namun seiring berjalannya waktu dan tingginya tingkat penyebaran di media sosial, makna kritik yang terkandung di dalamnya perlahan memudar.

“Awalnya, lagu ini jelas dibaca sebagai sarkasme. Di tengah isu energi, harga BBM, dan tanggung jawab seorang Menteri ESDM sekaligus Ketum Golkar, muncul jingle yang menggambarkan Bahlil Lahadalia bagaikan tokoh kartun imut yang ‘semakin ganteng’,” kata Fajar dikutip Selasa (2/6/2026).

Disampaikan Fajar, bahwa sarkasme yang terus-menerus diulang justru kehilangan daya kritisnya.

Lagu yang semula dimaksudkan sebagai sindiran berubah menjadi hiburan yang dinikmati sejumlah kalangan, mengawali dari pengguna TikTok hingga kalangan anak.

“Sarkasme yang direpetisi berulang-ulang justru melahirkan banalitas, yang tadinya tajam, menjadi biasa, yang tadinya menggigit, kini cuma jadi earworm yang muncul di kepala saat diam-diam: ‘MBG… Mas Bahlil Ganteng…'” ucapnya.

“Sarkasme mati lantaran terlalu sukses. Ia kehilangan giginya lantaran seluruh orang ikut menyanyikannya, termasuk pendukung Bahlil sendiri,” katanya mengimbuhkan.

Ia menilai kondisi tersebut tidak lepas dari mekanisme algoritma media sosial yang makin mengutamakan keterlibatan pengguna dibandingkan konteks atau niat awal pembuat konten.

Semakin kerap lagu diputar, diuntukkan, atau digunakan ulang dalam berbagai konten, semakin besar pula jangkauan yang diperoleh.

“Inilah kekuatan, dan sekaligus bahaya, algoritma media sosial. Platform bagaikan TikTok dan Instagram tidak peduli niat awal pembuat konten. Mereka cuma menyaksikan engagement: like, share, watch time, duet, stitch,” ujarnya.

Menurut Fajar, respons santai yang ditunjukkan Bahlil dan Partai Golkar turut memperkuat efek tersebut.

Alih-alih menepis atau melawan narasi yang muncul, mereka memilih merangkul meme yang beredar berakibat citra Bahlil menjadi makin dekat bersama publik.

“Sikap itu cerdas. Alih-alih defensif atau marah (yang justru akan jadi bahan bakar sarkasme baru), mereka memeluk meme tersebut,” kata dia.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *