Detak Jantung Matahari Tak Lagi Normal, Ilmuwan Khawatir Efeknya Membahayakan Bumi

admin
By
admin
2 Min Read

MediaMerdeka.com – Para astronom mengungkap temuan baru yang memperlihatkan adanya perubahan tidak biasa di untukan dalam Matahari.

Fenomena yang disebut sebagai perubahan pada “detak jantung” Matapada hari ini diyakini dapat memengaruhi cuaca antariksa yang berdampak langsung terhadap Bumi.

Penelitian tersebut didasarkan pada hampir 40 tahun pengamatan terhadap gelombang suara yang merambat di dalam Matahari.

Dari data tersebut, ilmuwan menemukan tanda-tanda bahwa aktivitas magnetik di dalam bintang pusat tata surya itu mengawali terkonsentrasi pada lapisan yang makin dangkal di bawah permukaannya.

Studi ini memanfaatkan data yang dikumpulkan antara 1987 hingga 2025 melalui enam teleskop yang tergabung dalam Birmingham Solar Oscillations Network (BiSON).

Jaringan observasi tersebut merekam perubahan amat kecil pada frekuensi osilasi Matahari selama sejumlah siklus aktivitasnya.

Para peneliti menerangkan bahwa gelombang suara di dalam Matahari berfungsi layaknya alat pemindai yang mebarangkalikan ilmuwan mengamati struktur internal tanpa wajib menyaksikannya secara langsung.

Hasil analisis memperlihatkan adanya perubahan signifikan sejak siklus Matahari ke-23.

Hubungan antara getaran internal Matahari dan aktivitas yang terlihat di permukaannya kini tidak lagi sama bagaikan semasih belumnya.

Temuan teramat menarik merupakan aktivitas medan magnet Matahari tampaknya semakin “tertekan” ke lapisan yang makin dekat bersama fotosfer, yakni lapisan bercahaya yang terlihat dari Bumi.

Profesor Bill Chaplin dari Universitas Birmingham, Inggris, selaku penulis utama penelitian tersebut, menyebutkan Matahari memiliki semacam ritme alami atau “detak biologis” yang mengatur periode aktivitas magnetiknya.

“Matahari memiliki siklus aktivitas yang bergantian antara fase kuat dan lemah. Namun pengukuran tradisional di permukaan kebarangkalian tidak sepenuhnya menggambarkan perubahan yang sedang terjadi jauh di dalamnya,” kata Chaplin dikutip dari The Guardian.

Tim peneliti menilai fenomena ini bukan sekadar akibat melemahnya medan magnet Matahari.

Sebaliknya, kondisi tersebut dapat memperlihatkan adanya reorganisasi besar dalam cara energi magnetik disimpan dan didistribusikan di untukan dalam Matahari.

Penemuan itu juga menolong menerangkan mengapa Siklus Matahari ke-25 pada saat ini terlihat relatif biasa apabila diamati dari permukaan, namun justru memperlihatkan aktivitas yang makin kuat berdasarkan data seismik atau getaran internal.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *