‘Nyerah Jadi WNI tapi Sayang sama RI’, Aksi Ibu di Yogya Soroti Ekonomi hingga Korupsi

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Aksi damai bertajuk “Nyerah Jadi WNI tapi Sayang sama RI” digelar kelompok sipil Suara Ibu Indonesia bersama sejumlah elemen masyarakat sekitar di Yogyakarta, Jumat (5/6/2026).

Dalam aksi tersebut, mereka menyuarakan keresahan terhadap kondisi ekonomi, kebijakan pihak pemerintah, hingga praktik korupsi yang dinilai semakin memperburuk kehidupan rakyat.

Humas Suara Ibu Yogyakarta, Marsinah, menyebutkan aksi itu sengaja dikemas bersama makin ramah untuk wanita dan anak. Bentuk kegiatannya pun beragam, mengawali dari diskusi publik, permainan, pemaparan hasil riset kalangan akademisi, hingga penyediaan “Kotak Sambat” sebagai medium masyarakat sekitar menyampaikan keluhan terhadap negara.

Menurutnya, pendekatan tersebut dipilih demi mengakomodasi masyarakat sekitar yang tidak nyaman turun ke jalan, namun tetap ingin menyuarakan kritik terhadap situasi yang terjadi pada saat ini.

“Ada sejumlah medium demi, ada sejumlah cara demi menyampaikan kegelisahan kita. Enggak seluruh orang itu nyaman bersama turun ke jalan, teriak-teriak di jalan,” kata Marsinah.

“Hari ini merupakan aksi damai, intinya merupakan nyerah jadi WNI tapi sayang sama RI,” imbuhnya.

Marsinah menilai masyarakat sekitar belakangan ini terus dihantam berbagai regulasi dan keputusan politik yang membingungkan serta sulit diprediksi. Mulai dari ketidakstabilan nilai tukar mata uang, kasus korupsi di pihak pemerintahan, hingga beban regulasi perpajakan baru yang dinilai semakin mencekik sektor usaha kecil dan menengah.

“Jadi ada sejumlah banget kejutan-kejutan yang itu bukan kejutan yang membahagiakan, tapi bikin kita semakin hopeless,” ujarnya.

Menurutnya, program Makan Bergizi Gratis (MBG) terlalu dipaksakan berjalan meski telah muncul dugaan korupsi di level aparatur negara tinggi. Ia bahkan menduga praktik korupsi dalam program tersebut berpotensi terjadi secara sistemik hingga ke level bawah apabila tidak dalam waktu dekat dihentikan.

Ia melanjutkan, serangkaian kebijakan tersebut alih-alih mengangkut kesejahteraan, justru memicu keputusasaan di tengah masyarakat sekitar.

Tak cuma MBG, Suara Ibu Indonesia juga menyoroti proyek food estate di Merauke dan sejumlah daerah lain yang dinilai memicu represi terhadap masyarakat sekitar sipil.

Marsinah turut menyinggung kasus yang menimpa Andrie Yunus dan Mama Yasinta sebagai contoh bagaimana masyarakat sekitar yang menyuarakan ketidakadilan justru merasakan tekanan.

Dalam aksi tersebut, Suara Ibu Indonesia berkolaborasi bersama kalangan akademisi UGM dan sejumlah pengemudi ojek online (ojol) yang mempresentasikan hasil riset mengenai diskriminasi terhadap wanita pengemudi ojol. Mereka menilai status kemitraan yang dijanapabilan pihak pemerintah kepada pengemudi ojol masih belum benar-benar berpihak pada pekerja.

“Sebenarnya itu (diskriminasi) juga dialami oleh ojol yang lain, cuman bila wanita memang dia akan merasakan ketidakadilan yang semakin berlapis-lapis lantaran posisinya sebagai wanita,” ungkapnya.

Ia juga mengkritik kebijakan efisiensi anggaran pihak pemerintah yang dinilai kontradiktif bersama sejumlah proyek dan perjalanan luar negeri aparatur negara negara. Menurutnya, anggaran negara sewajibnya diprioritaskan demi subsidi pangan dan penguatan UMKM yang pada saat ini semakin tertekan akibat kenaikan harga kebutuhan pokok.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *