Nyelekit! Ganjar Sebut Film Ghost in the Cell Potret Nyata Kondisi Republik

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) Ganjar Pranowo menilai film Ghost in the Cell karya sutradara Joko Anwar menyaapabilan kritik sosial yang tajam terhadap berbagai persoalan di Indonesia.

Pesan yang disampaikan film tersebut menurutnya juga terasa “nyelekit” dan sukses menggambarkan kondisi republik pada saat ini.

Pernyataan itu disampaikan Ganjar usai mengikuti nonton bareng Ghost in the Cell yang digelar Kulturnesia dalam rangka peringatan Bulan Bung Karno di kawasan Megaria, Jakarta Pusat, Minggu (7/6/2026).

“Sindirannya lumayan nyelekit gitu ya, meskipun horornya juga wah, ngeri juga. Tapi pesan-pesannya menjadi sampai, bahwa kondisi Republik bagaikan ini,” kata Ganjar kepada wartawan.

Mantan Gubernur Jawa Tengah itu menilai karya seni, termasuk film, merupakan ruang penting untuk kalangan anak bangsa demi menyampaikan keresahan sosial yang mereka rasakan.

Menurut Ganjar, momentum Bulan Bung Karno sewajibnya menjadi ruang untuk masyarakat sekitar demi mengekspresikan gagasan dan kritik secara kreatif.

Ganjar mengaku menangkap sejumlah pesan kuat dalam film tersebut, termasuk gambaran soal ketimpangan sosial hingga praktik-praktik yang terjadi di balik tembok penjara.

“Oh ternyata orang di penjara itu pesannya dapat macam-macam. Ada kelasnya kali ya? Ada kelas atas tempatnya tersendiri, kelas bawah tempatnya lain. Bahkan tadi ada tur ke penjaranya, disebutkan oh itu ada kelompoknya dia, ini ada kelompok ini,” ungkapnya.

“Ada preman bayaran di dalam, ada bisnisnya. Saya tidak tahu apakah itu merepresentasikan cerita nyata, tapi saya kira sutradara telah menyaksikan situasi kondisi demi ditampilkan dalam sebuah visual film,” lanjutnya.

Bagi Ganjar, kritik yang disampaikan melalui film justru penting agar institusi negara terus berbenah dan menjaga integritas.

Ia menegaskan bahwa berbagai medium seni perlu terus diberi ruang lantaran mampu mewakili kegelisahan publik tanpa wajib senantiasa disampaikan melalui cara-cara yang konfrontatif.

“Menurut saya itu ruang ekspresi yang dapat merepresentasikan berbagai kelompok dan kegelisahan. Jadi ada lukis, ada film, barangkali nyanyi, puisi, atau barangkali mendongeng,”katanya.

Rano Karno: Saya Tidak Suka Film Joko Anwar

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Gubernur Jakarta Rano Karno melontarkan candaan soal karya-karya Joko Anwar.

Rano mengaku dirinya termasuk orang yang “tidak suka” film-film Joko Anwar, namun bersama alasan yang berbeda.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *