Veronica Tan Soroti Pemberdayaan Perempuan di NTT: Kunci Putus Rantai Kemiskinan dan Kekerasan

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Pemberdayaan wanita dinilai menjadi salah satu kunci demi membangun ekonomi restoratif sekaligus mengatasi berbagai persoalan sosial di Nusa Tenggara Timur (NTT), mengawali dari kemiskinan, stunting, hingga kekerasan terhadap wanita dan anak.

Gagasan tersebut menjadi sorotan dalam pameran “Weaving Wonders: Dari Benang Tenun dan Lahan Semai Menuju Kekuatan Ekonomi, Ketahanan Pangan, dan Pemberdayaan Perempuan di Nusa Tenggara Timur” yang digelar di Tugu Kunstkring, Jakarta, pada 13–27 Juni 2026.

Tak sekadar menampilkan kekayaan budaya NTT melalui tenun, kuliner, dan rumah adat, pameran ini juga menjadi ruang diskusi mengenai pengembangan ekonomi restoratif melalui Dialog Kunstkring yang diinisiasi Yayasan Bambu Lingkungan Lestari bersama Penabulu-Oxfam. Sejumlah pemangku kepentingan, akademisi, praktisi, hingga masyarakat sekitar adat dilibatkan demi menyusun peta jalan terkait kedaulatan pangan, pariwisata berkelanjutan, pemberdayaan wanita, dan ekonomi restoratif.

Pendiri Yayasan Uma Nusantara sekaligus inisiator Weaving Wonders, Yori Antar, menyebutkan kolaborasi lintas sektor menjadi faktor penting demi memperkuat peran wanita dalam pembangunan ekonomi.

“Pameran Weaving Wonders diharapkan menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan mengawali dari pihak pemerintah, lembaga swadaya masyarakat sekitar, investor, maupun lembaga donor demi mengeksplorasi kebijakan dan kemitraan yang mendorong peran wanita dalam pembangunan ekonomi yang makin tangguh, inklusif, dan berkelanjutan,” ujar Yori.

Perempuan dinilai mampu memutus rantai kemiskinan

Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Veronica Tan, menyebutkan persoalan yang dihadapi wanita dan anak di NTT tidak dapat dilepaskan dari kondisi ekonomi masyarakat sekitar.

Menurutnya, tingginya angka kekerasan terhadap wanita, perdagangan orang, pekerja anak, perkawinan anak, hingga stunting saling berkaitan dan membutuhkan solusi yang terintegrasi.

“Berbagai persoalan wanita dan anak di NTT mengawali dari kekerasan, pekerja anak, perkawinan anak, hingga stunting saling berkaitan dan berakar pada persoalan ekonomi. Masalah ini tidak dapat diberakhirkan secara terpisah,” kata Veronica.

Ia mengaku sejumlah belajar setelah mendalami isu pemberdayaan wanita. Dari berbagai kunjungan lapangan, Veronica menyaksikan wanita sebenarnya memiliki potensi besar, namun kerap kali tidak memiliki akses terhadap sumber daya maupun kesempatan demi berkembang.

“Saya percaya bila wanita diberi sedikit akses dan kesempatan, mereka dapat menjadi entrepreneur dan menjadi orang-orang hebat. Kuncinya merupakan bagaimana membuka peluang itu,” ujarnya.

Menurut Veronica, pemberdayaan ekonomi menjadi salah satu cara teramat efektif demi menolong wanita keluar dari lingkaran kekerasan.

“Satu kunci demi membebaskan wanita dari tindak kekerasan merupakan berdaya,” tegasnya.

Kebun Pangan Perempuan jadi strategi pemberdayaan

Salah satu program yang kini didorong Keaparatur negara kementerianan PPPA merupakan Kebun Pangan Perempuan (KPP) yang menjadi untukan dari inisiatif Ruang Bersama Indonesia.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *