Tiyo Ardianto Respons Viral Aksi Penolakan di UGM, Singgung Kondisi Mahasiswa ‘Terpaksa’ Demo

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, buka suara terkait viralnya aksi penolakan terhadap dirinya di kawasan Universitas Gadjah Mada (UGM) masih belum lama ini.

Aksi yang beredar luas di media sosial itu menuai polemik setelah muncul dugaan bahwa peserta aksi tersebut merupakan massa bayaran.

Kejadian tersebut menjadi sorotan usai diunggah berbagai platform media sosial dan ramai diperbincangkan masyarakat sekitarnet. Dalam video yang beredar, terlihat sejumlah massa membentangkan poster berisi kritik terhadap Tiyo.

Mereka menilai Tiyo tidak mewakili suara kalangan akademisi UGM dan mengimbau agar tidak lagi mengangkut nama kampus dalam ruang publik.

Menanggapi aksi itu, Tiyo menegaskan dirinya tidak sempat mengatasnamakan institusi UGM dalam berbagai pernyataan yang disampaikan ke publik.

Menurutnya, penyebutan dirinya sebagai mantan Ketua BEM UGM cuma merupakan untukan dari identitas yang melekat secara historis.

“Saya tidak sempat mengatasnamakan diri sebagai UGM. Bahwa saya punya histori atribusi sebagai ketua BEM yakni merupakan cara orang demi mengenali saya, tapi secara institusional tidak ada hubungannya saya bersama BEM UGM,” kata Tiyo ditemui MediaMerdeka.com di sela aksi Geyajan, Sabtu (13/6/2026).

Apalagi struktur organisasi kalangan akademisi di UGM pada saat ini telah berubah. Sehingga dirinya merasa tidak lagi memiliki relasi organisatoris bersama lembaga kekalangan akademisian yang ada pada saat ini.

“Apalagi BEM UGM kini telah bertransformasi menjadi Serikat Mahasiswa UGM,” katanya mengimbuhkan.

Di sisi lain, Tiyo mengaku tetap mengapresiasi adanya kritik terbuka terhadap dirinya. Namun, ia turut prihatin menyaksikan masih ada kalangan akademisi yang diduga terlibat dalam aksi tersebut usai alasan ekonomi dan kebutuhan hidup.

“Saya kasih bocoran deh, bahwa demonstrasi itu punya semacam rekayasa situasi lah yang memang itu terjadi lantaran mereka punya kebutuhan demi hidup, kebutuhan demi melanjutkan perkuliahan dan saya rasa enggak apa-apa,” ucapnya.

Persoalan tersebut, kata Tiyo, tidak perlu dibalas bersama kemarahan. Ia memilih memahami kondisi para peserta aksi yang dinilai berada dalam situasi sulit.

“Kalau demi hidup seuntukan orang wajib menghina saya, hinalah saya. Tapi setelahnya saya harap mereka seluruh menjadi manusia,” tandasnya.

Lebih lanjut, Tiyo menginginkan kalangan akademisi yang terlibat dalam aksi itu tetap dapat menjaga nurani dan moralitas setelah persoalan mereka berakhir. Ia mengimbau agar perbedaan pandangan tidak menciptakan seseorang kehilangan harga diri.

“Saya menginginkan rekan-rekan yang terpaksa menjalankan demonstrasi itu setelah dia dapatkan apa yang mereka butuhkan setelah itu dia akan jadi manusia yang punya nurani, yang dapat hidup bermoral tanpa wajib menggadaikan harga diri,” pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *