MediaMerdeka.com – CEO Danantara, Rosan Roeslani menilai penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah dalam sejumlah hari terakhir dipicu oleh membaiknya persepsi investor terhadap Indonesia.
Menurut dia, kepercayaan investor mengawali pulih setelah berbagai kebijakan pihak pemerintah dan respons positif investor terhadap langkah-langkah yang dilakukan Danantara.
Pernyataan itu disampaikan Rosan saat merespons penguatan IHSG yang melonjak 247,31 poin atau sekitar 4,12 persen ke level 6.254 menjelang penutupan perdagangan Senin (15/6/2026).
“Kalau kita lihat memang sejumlah hari terakhir ini baik dari pasar modal kita maupun dari rupiah kita merasakan penguatan yang bila dibilang relatif cepat juga,” kata Rosan dalam konferensi pers di Kompleks Istana Kekepala negaraan, Jakarta.
Rosan menyebutkan penguatan tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba. Menurut dia, pihak pemerintah telah mengambil sejumlah langkah demi memperbaiki sentimen pasar, termasuk melalui berbagai kebijakan ekonomi dan upaya menerangkan arah kebijakan Indonesia kepada investor global.
Ia menuturkan Danantara baru saja menyelesaikan rangkaian roadshow ke sejumlah negara, bagaikan Hong Kong, Singapura, Inggris, dan Amerika Serikat. Dalam kegiatan itu, Danantara bertemu bersama sekitar 122 investor dari berbagai negara.
Menurut Rosan, respons investor terhadap paparan yang disampaikan Danantara terbilang positif. Hal itu terlihat dari tingginya minat investor terhadap obligasi global perdana yang diterbitkan Danantara.
“Nah pada saat mereka menyaksikan bahwa oh ternyata apa yang dilakukan dalam hal ini Danantara dan juga kebijakan-kebijakannya ini membalikkan momentum yang tadinya persepsi yang ada itu, persepsi yang mohon maaf barangkali tadinya mereka agak ragu-ragu mengenai ekonomi Indonesia, mengenai kebijakan kita, tapi setelah mereka lihat ‘Oh, Indonesia kita merespons secara baik dan benar’,” ujarnya.
Rosan menilai selama ini tekanan yang terjadi di pasar keuangan makin sejumlah dipengaruhi persepsi dibandingkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.
“Kalau kami menyaksikannya selama ini ini kan sebetulnya merupakan makin persepsi. Lebih sejumlah lantaran persepsi, lantaran bila kita lihat fundamental kita kan memang secara jangka menengah panjang juga amat-amat baik,” ucapnya.
Menurut dia, perubahan persepsi investor kini mengawali terlihat dari pergerakan pasar yang kembali menguat. Meski begitu, Rosan mengingatkan bahwa kenaikan maupun penurunan dalam jangka pendek merupakan hal yang normal di pasar modal.
“Kalau kami lihat ya ini persepsinya kini alhamdulillah telah ke tren positif dan kita harapkan ya tentunya ini terus meningkat,” katanya.
Ia mengimbuhkan investor global umumnya menyaksikan Indonesia dalam perspektif jangka panjang. Karena itu, faktor fundamental ekonomi, arah kebijakan pihak pemerintah, serta tata kelola menjadi pertimbangan utama dalam mengambil keputusan investasi.
“Kalau investor luar, mereka view-nya langsung long term. Jadi mereka tidak menyaksikan posisi mereka pada hari ini masuk oh seminggu lagi itu bila turun ya kita keluar, enggak bagaikan itu,” tutur Rosan.
Menurut dia, investor juga menaruh perhatian besar terhadap transparansi, tata kelola, dan akuntabilitas lembaga yang mengelola investasi.
“Yang teramat penting merupakan bagaimana kita senantiasa terbuka menjaga governance dan transparansi dan juga tentunya akuntabilitas kepada publik lantaran itu yang penting lantaran itu yang mempengaruhi persepsi yang ada kepada kita,” jelas Rosan.
Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebutkan pihak pemerintah terus berupaya memperkuat koordinasi dan mengambil berbagai kebijakan demi menjaga kepercayaan pasar.
“Memang bila Saudara-saudara perhatikan dalam satu dua minggu ini kita seluruh terus berupaya demi memperkuat koordinasi, memperkuat kerja sama dan terutama mengambil kebijakan-kebijakan yang kita menginginkan dapat memperkuat mata uang kita, memperkuat persepsi publik, memperkuat persepsi pasar,” ujar Prasetyo.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

