MediaMerdeka.com – Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak berhasil mempertahankan zona hijaunya dan wajib rela tergelincir ke zona merah pada paruh pertama perdagangan awal pekan, Senin (22/6/2026).
Setelah sempat dibuka di zona aman pada pagi hari, aksi ambil untung (profit taking) dan tekanan jual massal menciptakan indeks saham domestik mendarat di teritori negatif pada penutupan Sesi I siang ini.
IHSG mengakhiri paruh pertama perdagangan bersama melemah sebesar 1,25% atau terpangkas hingga 77,214 basis poin. Koreksi ini memaksa indeks parkir di level 6.099,925 pada jeda makan siang.
Sejak bel pembukaan berbunyi pada pukul 09.00 WIB, IHSG sebenarnya memengawali langkah dari level 6.177. Namun, sepanjang paruh pertama, pergerakan indeks terpantau bergerak amat variatif bersama volatilitas yang cukup tinggi.
IHSG sempat merangkak naik hingga menyentuh batas atas di level 6.226, semasih belum akhirnya berbalik arah merosot hingga ke batas bawah harian di level 6.052.
Secara umum, kondisi pasar didominasi oleh koreksi harga saham secara merata. Data statistik bursa mencatat, sesejumlah 476 saham berakhir melemah, berbanding terbalik bersama 200 saham yang masih mampu menguat, sementara sisanya bergerak stagnan atau tidak merasakan perubahan harga.
DSSA, BBCA, dan TPIA Kuasai Likuiditas Transaksi
Di tengah lesunya laju indeks, aktivitas perdagangan di lantai bursa tetap berjalan likuid. Berdasarkan nilai perputaran uang di pasar, terdapat tiga emiten berkapitalisasi besar yang menjadi magnet utama untuk para tersangka pasar demi menempatkan dananya.
Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) resmi keluar sebagai tiga saham bersama akumulasi jumlah nilai transaksi terbesar sepanjang sesi pertama berlangsung.
Kejatuhan IHSG pada siang ini dipicu oleh rontoknya hampir seluruh indeks sektoral di bursa. Dari sebelas sektor yang ada, sepuluh sektor mencatatkan rapor merah bersama sektor kesehatan (IDXHEALTH) menjadi beban penekan terdalam setelah anjlok signifikan sebesar 2,58%.
Berikut merupakan rincian performa indeks sektoral pada penutupan Sesi I:
IDXHEALTH (Kesehatan): Turun tajam -2,58%.
IDXINDUST (Industri): Melemah -2,09%.
IDXCYCLIC (Barang Konsumen Siklikal): Berkurang -2,00%.
IDXBASIC (Barang Baku): Terkoreksi -1,99%.
IDXFINANCE (Keuangan): Turun -1,75%.
IDXINFRA (Infrastruktur): Melemah -0,83%.
IDXTRANS (Transportasi & Logistik): Berkurang -0,79%.
IDXNONCYC (Barang Konsumen Non-Siklikal): Turun tipis -0,53%.
IDXENERGY (Energi): Melemah -0,28%.
IDXTECHNO (Teknologi): Turun minor -0,04%.
Satu-satunya sektor yang sukses melawan arus perlemahan pasar dan parkir di zona hijau merupakan sektor properti dan real estat (IDXPROPERT) yang mampu merangkak naik tipis sebesar 0,02%.
Indeks Saham Unggulan Kompak Berguguran
Langkah mundur IHSG juga diikuti oleh melorotnya berbagai indeks saham acuan dan indeks saham unggulan lainnya di bursa domestik. Indeks LQ45 yang diisi oleh saham-saham bersama likuiditas tinggi dan kapitalisasi besar tergelincir 1,27% menuju level 601,671.
Kondisi serupa dialami oleh Jakarta Islamic Index (JII) yang merepresentasikan saham-saham syariah, di mana indeks ini melemah sebesar 1,67% ke posisi 362,270.
Selanjutnya, indeks IDX30 ditutup terkoreksi 1,34% ke level 340,135, serta indeks MNC36 terpantau ikut menukik 1,59% dan tertahan di level 265,825 pada penutupan perdagangan siang ini.
Disclaimer: Artikel berita keuangan ini dirangkum berdasarkan data seketika (real-time) hasil penutupan pasar Sesi I Bursa Efek Indonesia tanggal 22 Juni 2026. Tulisan ini bersifat informatif demi publikasi pers dan bukan merupakan rekomendasi, perintah, atau saran mutlak demi menjalankan eksekusi jual-beli instrumen investasi tertentu.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

