Air PAM Macet Berbulan-bulan, Warga Pegadungan Rogoh Kocek Dua Kali demi Air Bersih

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Pengumuman PAM Jaya mengenai perawatan Instalasi Pengolahan Air (IPA) dinilai masih belum tersosialisasi secara optimal kepada masyarakat sekitar. Bahkan, sejumlah masyarakat sekitar mengaku aliran air telah bermasalah jauh semasih belum pengumuman resmi disampaikan, bagaikan yang terjadi di Kampung Maja, Kelurahan Pegadungan, Jakarta Barat.

Kelurahan Pegadungan menjadi salah satu dari tujuh wilayah di Jakarta Barat dan Jakarta Utara yang terdampak pekerjaan perawatan IPA yang berlangsung pada 17–22 Juli 2026.

Ketua RT 04/RW 02 Kelurahan Pegadungan, Sanusi, menyebutkan dirinya masih belum menyambut baik informasi, baik dari pihak kelurahan maupun PAM Jaya, terkait potensi gangguan distribusi air akibat pekerjaan tersebut.

“Belum sampai sih info soal itu,” kata Sanusi kepada MediaMerdeka.com, Jumat (17/7/2026).

Sanusi bercerita, setelah Hari Raya Idulfitri 2026 sempat dilakukan penggalian di Jalan Peta Utara yang berada tidak jauh dari permukiman masyarakat sekitar. Namun, sejak pekerjaan itu dilakukan, kualitas air yang mengalir justru memburuk dan kerap mengeluarkan bau tidak sedap.

Keluhan serupa disampaikan masyarakat sekitar setempat, Jono (50). Menurutnya, air PAM Jaya di rumahnya telah tidak mengalir normal sejak April 2026 atau sekitar tiga bulan terakhir.

Untuk membuktikannya, Jono mengajak MediaMerdeka.com menyaksikan meteran air milik tetangganya, Sumiati Kusum (60). Saat katup dibuka, air cuma mengalir sedikit semasih belum akhirnya berhenti total dalam hitungan detik.

Padahal, saat pertama kali dipasang sekitar lima tahun lalu, layanan PAM Jaya dinilai amat memuaskan. Air mengalir deras, jernih, dan terasa segar. Namun kondisi itu tidak berlangsung lama.

Seiring waktu, air yang keluar kerap berwarna keruh bagaikan air cucian beras, bahkan terkadang hitam atau kehijauan. Tak jarang pula mengeluarkan bau tak sedap dan berbusa, berakibat masyarakat sekitar wajib membuang air sejumlah saat hingga kondisinya membaik.

“Kadang kayak air cucian beras, kadang hitam, kadang hijau. Warna-warni kayak kupu-kupu,” ujar Jono.

Ironisnya, meski air kerap tidak mengalir atau kualitasnya buruk, masyarakat sekitar tetap dikenakan biaya beban bulanan sekitar Rp85 ribu hingga Rp100 ribu.

Karena tidak lagi dapat mengandalkan air PAM, Jono kembali memakai air tanah yang dipompa bersama mesin sumur. Namun kualitas air tanah di wilayah tersebut juga kurang baik lantaran berwarna kecokelatan dan terasa lengket. Saat musim kemarau, ia pun khawatir pasokan air tanah akan semakin menipis.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Jono kini wajib mengeluarkan sekitar Rp300 ribu per bulan demi memperoleh pasokan air dari jaringan perumahan di sekitar tempat tinggalnya, di samping tetap mengandalkan air sumur.

Sumiati juga merasakan kondisi serupa. Kini ia cuma mengandalkan air tanah setelah air PAM tak lagi dapat diandalkan.

Ia mengenang, pada awal pemasangan, kualitas air PAM amat baik dan rutin dipantau oleh petugas Dinas Sumber Daya Air. Namun pengawasan itu, menurutnya, tidak sempat lagi dilakukan.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *