MediaMerdeka.com – Aktivis Sonam Wangchuk tetap menepis menghentikan aksi mogok makan yang telah berjalan selama 26 hari. Langkah ekstrem ini diambil guna menuntut penataan ulang sistem pendidikan dan pengunduran diri aparatur negara berwenang akibat maraknya kecurangan ujian.
Kondisi kesehatan pria yang akrab disapa “Sonam sir” tersebut kini semakin menurun usai kehilangan bobot tubuh hingga 11 kilogram. Pemerintah India pun mengawali berada di bawah tekanan besar seiring meluasnya dukungan publik terhadap gerakan pemuda ini.
Aparat keamanan semasih belumnya memindahkan Wangchuk secara paksa dari lokasi demonstrasi di Jantar Mantar, New Delhi, menuju rumah sakit. Meski dikawal ketat pihak kepihak kepolisianan, ribuan massa penuntut keadilan tetap bertahan memadati area pusat ibu kota tersebut.
Eskalasi massa tak membendung bentrokan fisik antara peserta aksi dan aparat penegak hukum pada awal pekan. Insiden kekerasan itu memicu kemarahan masyarakat sekitar luas sekaligus menyatukan kekuatan partai oposisi di tingkat nasional.
Perdana Menteri Narendra Modi merespons gejolak ini bersama menjanapabilan pembentukan lembaga peradilan khusus penanganan kebocoran naskah tes.
“Tidak ada yang makin penting daripada kesejahteraan dan masa depan pemuda kita,” tulisnya melalui akun X resmi.
Modi mengimbuhkan, langkah hukum tegas siap menjerat siapa pun yang terbukti merusak sistem seleksi nasional.
“Kami telah memutuskan demi membentuk pengadilan jalur cepat demi mengonfirmasi hukuman yang cepat dan tegas untuk mereka yang terlibat dalam kebocoran soal… Ini melanjutkan rangkaian langkah kami demi melindungi kepentingan siswa… Mereka yang berupaya membahayakan masa depan pemuda kita tidak akan diampuni.”
Pernyataan orang nomor satu di India itu langsung memicu kritik balasan dari perwakilan gerakan masyarakat sekitar. Pihak penyelenggara aksi menilai respons pihak pemerintah tidak menyentuh akar permasalahan yang mendasar.
Perwakilan aksi Ashutosh Ranka menegaskan perlawanan tidak akan berhenti semasih belum ada pembenahan struktural.
“Anda mengobati luka setelah terjadi cedera, namun perjuangan kami menanyakan mengapa cedera itu wajib terjadi,” tegasnya melalui unggahan video.
Wangchuk sempat bertahan selama tiga minggu di tengah cuaca panas ekstrem New Delhi cuma bersama mengonsumsi air dan garam. Pihak Medanta Hospital Gurugram mengonfirmasi bahwa sang aktivis kini menjalani perawatan intensif di ruang ICU.
Tim medis mengonfirmasi kondisi fisiknya masih berada dalam pemantauan ketat dari berbagai dokter spesialis.
“Dia dirawat oleh tim dokter lintas disiplin. Saat ini kondisinya stabil, sadar, dan tanda-tanda vitalnya berada dalam parameter yang dapat diterima. Semua tindakan medis yang diberikan kepadanya dilakukan atas persetujuan yang bersangkutan.”
Desakan agar Wangchuk mengakhiri aksi bertahan hidup datang dari berbagai kalangan politisi hingga aparatur negara kementerian kabinet. Menteri Kesehatan JP Nadda bahkan mendatangi langsung tempat perawatan sang aktivis demi membujuknya berhenti berpuasa.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

