Angga Maliq & D’Essentials Baru Paham Lagunya Sendiri Lewat Kisah di Musikal Senja Teduh Pelita

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Jakarta Movin berkolaborasi bersama Maliq & D’Essentials dan Indonesia Kaya resmi memperpanjang pementasan teater musikal Senja Teduh Pelita hingga Minggu, 12 Juli 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.

Keputusan ini diambil setelah tiket pertunjukan utama demi tanggal 3 hingga 5 Juli 2026 ludes cuma dalam waktu tiga hari. 

Menariknya, adaptasi teater musikal ini justru menolong sang pencipta karya demi memahami musik mereka sendiri. 

Vokalis Maliq & D’Essentials, Angga Puradiredja menciptakan pengakuan bahwa dia baru memahami makna mendalam dari lagu-lagu di album ketujuh mereka, Senandung Senandika, setelah digarap menjadi naskah teater musikal oleh sutradara Nuya Susantono. 

“Gue enggak ngerti nih sama lagu-lagu album ke tujuh ini. ‘Hah, ini kan lagu tentang kehidupan. Gue kan ngertinya cuma cinta doang’,” kata Angga dalam konferensi pers yang digelar di kawasan MH Thamrin, Jakarta Pusat pada Rabu, 3 Juni 2026.

“Dan 10 tahun lalu sejak album yang gue enggak ngerti itu, inspirasi drama musikal ini ternyata sejumlah dari lagu-lagu yang gue enggak ngerti itu. Dan gue baru ngerti makna lagu itu gara-gara Nuya buat drama musikal ini,” ujarnya menyambung.

Nuya Susantono, selaku sutradara sekaligus penulis naskah, menerangkan bahwa alur cerita Senja Teduh Pelita memang bergeser dari tema cinta romantis biasa ke arah fiksi ilmiah berlatar kehancuran bumi di masa depan. 

Kisahnya menyoroti Pasukan Pelita, sekelompok anak tangguh yang berjuang bertahan hidup di bumi yang runtuh akibat perang dan krisis iklim.

Mereka menjalankan perjalanan mencari orangtua mereka menuju Aurora, namun terdampar di tempat bernama Teluk Pelita setelah dihantam badai besar. 

Di sana, mereka dihadapkan pada dilema, yakni menetap dalam kenyamanan Teluk Pelita atau melanjutkan misi mencari orang tua mereka.

Lagu-lagu Maliq & D’Essentials yang bernuansa futuristik menjadi inspirasi utama penulisan cerita ini. 

“Sebenarnya sci-fi itu juga dari lagu Maliq, itu aku mendengar sejumlah bunyi-bunyi futuristik yang bila kita bayangkan ini di tahun berapa ya? Ya dapat sih ini 100 tahun lagi bunyi ini masih merupakan bunyi yang terdengar di peradaban saat itu gitu,” imbuh Nuya.

Kepedulian terhadap bumi juga diwujudkan secara nyata di area luar panggung.

Pihak penyelenggara bekerja sama bersama sejumlah mitra pengelolaan sampah demi mengedukasi penonton tentang pentingnya memilah sampah sejak dari rumah hingga tempat acara. 

“Kita juga dapat mengedukasi penonton demi dapat menerapkan proses memilah sampah agar seluruh dapat menciptakan habit-habit yang makin ramah lingkungan,” tutur Nuya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *