Apakah Harga Minyak Dunia Kembali Normal Setelah AS – Iran Damai?

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kini dituntut membuktikan janjinya kepada publik global. Kesepakatan damai perang Iran yang dalam waktu dekat diteken akhir pekan ini menjadi pertaruhan atas stabilitas ekonomi dunia.

Selama ini, Trump berulang kali menegaskan bahwa harga energi akan dalam waktu dekat merosot tajam begitu konflik berakhir. Faktanya, memulihkan jalur pasokan komoditas hitam tersebut ke posisi normal tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Harga minyak mentah Brent memang sempat melandai ke bawah angka 85 dolar AS per barel. Namun, situasi di pasar berjangka memperlihatkan kecemasan mendalam bahwa pemulihan total baru terjadi tahun 2031.

Kondisi psikologis pasar dipengaruhi oleh realitas hancurnya infrastruktur logistik pasca-perang di Timur Tengah. Harapan kembalinya harga bahan bakar murah bentrok bersama fakta lapangan yang rumit.

“Kita akan menyaksikan bagaikan apa kondisi normal yang baru nanti,” ujar Dan Pickering, pendiri sekaligus kepala investasi di Pickering Energy Partners dikutip dari CNN.

“Namun, kondisinya tidak akan menghasilkan bensin seharga 2,85 dolar AS lagi.”

Ketika pemblokiran jalur laut dibuka resmi hari Jumat, ratusan juta barel minyak terjebak di kapal tanker. Distribusi tersebut tersendat lantaran Iran menanam sejumlah ranjau laut di sepanjang kawasan Selat Hormuz.

Kondisi tersebut memaksa kapal-kapal tanker raksasa cuma dapat melewati dua jalur navigasi yang amat sempit. Akibatnya, terjadi penumpukan armada yang memperlambat arus keluar masuk pasokan energi secara drastis.

Nakhoda kapal wajib ekstra waspada memandu jalannya armada agar tidak saling bertabrakan atau kandas. Proses pembersihan ranjau berisiko tinggi oleh Angkatan Laut AS diperkirakan memakan waktu berminggu-minggu.

Aspek lain yang memperlambat normalisasi pasokan merupakan ketersediaan armada tanker yang siap muat di sekitar selat. Jumlah kapal yang bersiap di lokasi pada saat ini jauh makin sedikit dari kondisi normal.

Dunia internasional juga masih mengkhawatirkan stabilitas keamanan regional apabila kesepakatan damai tersebut dilanggar sepihak. Premi asuransi kapal otomatis melonjak drastis, menciptakan sejumlah korporasi logistik enggan berspekulasi mengirim armada mereka.

“Pemilik kapal tidak akan bergerak dalam jumlah besar tanpa gencatan senjata yang kredibel dan stabil dari kedua belah pihak yang berkonflik,” kata Jakob Larsen, petugas keselamatan & keamanan di BIMCO.

Ketegangan bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran semasih belumnya telah melumpuhkan aktivitas ekonomi di Selat Hormuz sejak Februari lalu. Jalur strategis ini merupakan urat nadi utama yang mendistribusikan seperlima pasokan minyak dunia.

Sektor industri memproyeksikan proses pemulihan operasional pelayaran membutuhkan waktu minimal dua hingga enam bulan. Selama masalah mendasar di jalur distribusi ini masih belum berakhir, harga energi global ditentukan tetap tinggi.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *