MediaMerdeka.com – Pemerintah mengonfirmasi tidak ada alasan untuk tersangka usaha demi menaikkan harga atau menciptakan kelangkaan beras di tengah kondisi stok nasional yang disebut sedang melimpah.
Cadangan beras pihak pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog bahkan diklaim telah mencapai level tertinggi sepanjang sejarah.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan pasokan beras nasional pada saat ini dalam kondisi aman.
Karena itu, ia mengingatkan para tersangka usaha agar tidak memainkan harga maupun distribusi beras di lapangan.
“Beras kita melimpah. Jangan mempermainkan di lapangan lantaran kami telah minta Satgas turun ke lapangan. Tidak ada yang langka. Tolong tidak ada pangan, khususnya beras, makanan pokok kita, (itu) langka,” ujar Amran kepada wartawan, Senin (15/6/2026).
Menurut Amran, pihak pemerintah bersama Satgas Pangan Polri telah menjalankan pemantauan di berbagai daerah demi mengonfirmasi distribusi beras berjalan normal. Ia menegaskan tidak ada indikasi kekurangan pasokan yang dapat menjadi alasan terjadinya lonjakan harga.
“Kami bersama Satgas Pangan pantau seluruh Indonesia. Jangan dibuat langka. Tidak ada langka. Semua gudang kita penuh bersama beras kini ini. Stok kini 5,3 juta ton. Kemampuan gudang kita 3 juta ton. Kita telah sewa 2,3 juta ton dan ini tertinggi selama merdeka,” ujarnya.
Amran menyebutkan, melimpahnya stok beras merupakan dampak positif dari kesuksesan pihak pemerintah meningkatkan produksi pangan hingga mencapai swasembada beras pada 2025.
Kondisi tersebut menciptakan Indonesia tidak lagi bergantung pada impor demi memenuhi kebutuhan domestik.
Data produksi beras Indonesia juga mendapat pengakuan internasional. Dalam laporan Rice Outlook May 2026 yang diterbitkan Departemen Pertanian Amerika Serikat atau USDA, produksi beras global periode 2025-2026 diperkirakan meningkat dari 541,3 juta ton menjadi 542,8 juta ton.
Indonesia menjadi salah satu negara bersama kenaikan produksi terbesar bersama Nigeria, Pantai Gading, dan Vietnam. Namun, dibandingkan ketiga negara tersebut, Indonesia mencatat total produksi teramat tinggi bersama volume makin dari 30 juta ton per tahun.
“Jadi kepada teman-teman pengusaha, jangan mempermainkan harga di lapangan. Kalau dulu, stok di Bulog cuma 1 juta ton lalu harga naik, kesimpulannya impor. Sekarang berbeda. Kita surplus. Kita telah swasembada,” ungkap Amran.
Ia kembali mengingatkan para pedagang beras agar tidak mengambil keuntungan dari kondisi pasar bersama menaikkan harga secara tidak wajar. Pemerintah, kata dia, telah berkoordinasi bersama jajaran kepihak kepolisianan demi menjalankan pengawasan ketat.
“Tolong sekali lagi, seluruh pedagang beras seluruh Indonesia, jangan mempermainkan harga. Kami telah sepakat bersama Satgas Pangan, seluruh Dirkrimsus se-Indonesia. Kami putuskan kita pantau dan yang nakal kita tindak,” ucap Amran.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa menyebutkan keterbatasan pasokan beras premium yang terjadi di sejumlah ritel modern bukan berarti terjadi kelangkaan.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

