Saham-saham BUMN Dilego Asing, Bagaimana Prospeknya Hari Ini?

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dilaporkan melesat tajam hingga 7,38 persen dan sukses mendarat di zona psikologis baru pada level 6.007 poin pada akhir pekan pada hari semasih belumnya.

Apresiasi pertumbuhan indeks ini terhitung berjalan amat agresif, membalikkan kekhawatiran pasar di tengah gempuran aksi jual bersih (net sell) yang dilakukan oleh pemegang modal global secara masif.

Dalam rentang waktu satu pekan, investor mancanegara membukukan net sell kumulatif bersama estimasi mencapai Rp6,08 triliun di seluruh papan perdagangan.

Aksi lepas portofolio ini kian memperpanjang draf akumulasi penjualan bersih asing sejak awal periode tahun 2026 yang secara agregat telah menyentuh angka Rp78,3 triliun.

Kendati modal asing keluar dalam jumlah fantastis, laju pertumbuhan IHSG yang tetap mendaki membuktikan kekuatan likuiditas dari kelompok investor domestik. Para tersangka pasar lokal dinilai amat kokoh dan responsif dalam menyerap tekanan jual eksternal tersebut.

Saham-saham Paling Banyak Dijual Asing

Sektor finansial bertingkat kapitalisasi besar (big caps) yang menjadi pilar indeks justru menjadi target utama pelepasan aset oleh pemodal global:

Saham BBRI menduduki posisi puncak sebagai instrumen yang teramat sejumlah dilepas oleh asing. Nilai divestasi harian pada saham ini menyentuh Rp1,92 triliun, atau setara bersama porsi 31 persen dari total net sell pasar sepekan. Rangkaian distribusi pelepasan saham ini dimotori oleh sejumlah korporasi sekuritas global, antara lain:

Berdasarkan draf rujukan data pergerakan, entitas institusi global yang belakangan terdeteksi mengambil posisi jual pada BBRI meliputi Brown Advisory, Principal Global Investors, serta J.P. Morgan Investment Management.

Berada di urutan kedua, saham BMRI mencatatkan net sell asing senilai Rp503,29 miliar. Tekanan jual dominan disalurkan melalui dua perantara, yakni UBS Sekuritas (AK) sebesar Rp511 miliar dan JP Morgan Sekuritas (BK) senilai Rp355 miliar.

Menariknya, terjadi draf perlawanan beli dari broker CGS Sekuritas (YU) dan Macquarie Sekuritas yang masing-masing justru mengoleksi BMRI senilai Rp495 miliar dan Rp241 milar.

Sebagai saham bersama bobot indeks yang besar, BBCA juga tidak luput dari draf tekanan. Fluktuasi perdagangan sempat mengangkut harga BBCA menyentuh area terendah dalam sejumlah tahun terakhir di bawah level Rp5.000 akibat aksi jual agresif dari UBS Sekuritas (AK) yang mencapai Rp2,2 triliun.

Berdasarkan analisis data, lembaga pengelola dana bagaikan Capital Research and Management Company (Capital Group) dan Fidelity Management & Research Company (Fidelity Investment) tercatat mengurangi kepemilikan mereka.

Namun, koreksi dalam tersebut langsung dimanfaatkan oleh seuntukan asing lainnya serta kekuatan modal domestik demi menjalankan akumulasi beli (buy on weakness). Investor bagaikan Macquarie Sekuritas (RX) mengamankan Rp578,5 miliar dan Verdhana Sekuritas (BB) menyerap Rp432,8 milar.

Dorongan beli balik ini sukses mengerek harga saham BBCA melonjak hingga 17 persen dalam sepekan hingga kembali mendekati level Rp6.000 per lembar, memangkas nilai net sell neto sepekan menjadi tinggal Rp412,8 miliar.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *