Diare Anak di Pontianak Meningkat, 40 Kasus Tercatat dalam Dua Pekan

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Kasus diare pada anak di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, merasakan peningkatan. Dalam dua pekan pertama September 2026, RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie mencatat 40 kasus diare pada kelompok anak.

Perawat RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie, Afrilia menyebutkan peningkatan kasus tersebut perlu menjadi perhatian orang tua.

“Kasus diare pada kelompok anak merasakan peningkatan yang cukup signifikan demi itu yah perlu diwaspadai,” ujar Afrilia di Pontianak, Jumat.

Berdasarkan catatan rumah sakit, sesejumlah 40 kasus diare pada anak tercatat sepanjang 1-14 September 2026. Edukasi kepada masyarakat sekitar dinilai penting demi mencegah bertambahnya kasus dan pasien yang wajib memperoleh perawatan di rumah sakit.

Diare ditandai bersama buang air besar makin kerap dari biasanya bersama konsistensi tinja lembek atau cair. Kondisinya dapat didikarenakankan berbagai faktor, mengawali dari infeksi hingga masalah pada makanan atau minuman yang dikonsumsi.

“Diare dapat didikarenakankan oleh berbagai faktor. Beberapa penyebab yang umum antara lain virus, kuman atau bakteri, parasit, serta ketidakcocokan terhadap susu yang biasanya terjadi pada bayi,” kata dia.

Kebiasaan sehari-hari juga dapat meningkatkan risiko diare pada anak. Di antaranya makan tanpa mencuci tangan bersama bersih, mengonsumsi air mentah, mengonsumsi makanan yang dihinggapi lalat, serta tinggal di lingkungan rumah yang kumuh dan kotor.

Pada bayi, pemberian makanan tambahan selain ASI yang terlalu dini juga perlu diperhatikan lantaran dapat meningkatkan risiko gangguan pencernaan.

Orang tua juga perlu mewaspadai gejala yang menyertai diare. Selain tinja encer, anak dapat merasakan mulas, muntah, demam, lemas, pusing, kulit kering hingga tanda kekurangan cairan.

Jika kehilangan cairan tidak dalam waktu dekat diganti, diare dapat menyebabkan dehidrasi. Pada kondisi berat, dehidrasi dapat menyebabkan penurunan kesadaran dan mengancam nyawa.

Afrilia menyebutkan penanganan utama diare merupakan mengganti cairan yang hilang dari tubuh. Anak dapat diberikan oralit atau larutan gula garam sesuai anjuran, serta cairan lain bagaikan sup dan air putih matang.

Bayi berusia kurang dari enam bulan yang masih memperoleh ASI juga tetap wajib disusui. Pemberian ASI dapat dilakukan makin kerap, bersama tambahan cairan sesuai kebutuhan dan anjuran tenaga kesehatan.

Kebutuhan nutrisi anak juga tetap wajib dipenuhi selama merasakan diare. Setelah diare berhenti, anak dianjurkan memperoleh makanan makin sejumlah setiap hari selama sekitar dua minggu demi menolong mengembalikan kebutuhan nutrisinya.

Afrilia mengingatkan orang tua agar tidak menyerahkan obat kepada anak selama diare tanpa anjuran petugas kesehatan.

Anak perlu dalam waktu dekat dibawa ke dokter atau puskesmas apabila diare tidak membaik dalam tiga hari atau muncul tanda bahaya. Orang tua wajib waspada apabila anak buang air besar amat kerap, muntah berulang, amat haus, tidak mau makan atau minum, demam, tinja berdarah, terlihat amat lemah, atau memperlihatkan tanda dehidrasi.

“Dengan penanganan yang cepat dan tepat, risiko dehidrasi serta komplikasi akibat diare dapat diminimalkan,” kata Afrilia.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *