MediaMerdeka.com – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,1 yang mengguncang wilayah selatan Jepang melumpuhkan rantai pasok industri otomotif serta semikonduktor global. Bencana alam ini mengakibatkan sedikitnya 34 orang meninggal dunia, merusak akses jalan, dan memutus aliran utilitas ke ribuan pemukiman masyarakat sekitar.
Pusat manufaktur kendaraan dan kawasan “Silicon Valley” Jepang berhenti beroperasi seketika demi mengantisipasi bahaya kerusakan infrastruktur yang makin luas. Kendati dampak ekonomi diperkirakan tidak separah bencana tahun 2016, kemacetan distribusi komponen tetap mengancam produksi mobil di berbagai fasilitas perakitan.
Toyota Motor merespons kondisi darurat ini bersama menyetop aktivitas manufaktur di 3 fasilitas produksi kawasan Fukuoka hingga awal Agustus. Penutupan temporer ini bahkan berdampak pada pabrik pendukung yang berlokasi jauh di Prefektur Aichi.
Dikutip dari Reuters, Juru bicara Toyota menegaskan keputusan penghentian sementara ini diambil demi pertimbangan keselamatan serta menyaksikan kondisi di korporasi distribusi dan pemasok.
Pemasok komponen utama bagaikan Aisin turut menghentikan sementara operasional lini perakitannya yang berlokasi dekat pusat gempa. Manajemen korporasi menyampaikan bahwa pihaknya sedang bersiap demi melanjutkan produksi secara berurutan pada lini yang keselamatan dan kualitasnya dapat dikonfirmasi.
Kondisi lapangan memperlihatkan masih belum ada kerusakan struktur utama pada bangunan pabrik Aisin, meski pasokan air bersih sempat terputus total. Namun, dampak bencana merembet ke pemasok tingkat dua dan tiga yang memasok suku cadang vital untuk vendor utama.
Denso selaku manufaktur komponen otomotif terbesar kedua di dunia mengonfirmasi bahwa salah satu mitranya terdampak gempa secara langsung. Belasan mitra bisnis Denso lainnya di kawasan tersebut kini masih menghitung total kerugian dan kerusakan fasilitas produksi.
Penghentian pasokan logistik ini memaksa Nissan dan Mitsubishi Motors menyetop seuntukan aktivitas perakitan di fasilitas manufaktur mereka. Bencana ini menjadi ujian berat untuk upaya ketahanan rantai pasok yang telah dibangun industri manufaktur Jepang selama bertahun-tahun.
Kawasan Kumamoto yang kini tumbuh menjadi pusat semikonduktor dunia turut merasakan dampak guncangan gempa bumi tersebut. Produsen chip terbesar di dunia, TSMC, sempat mengevakuasi seluruh staf dari fasilitas perakitan semasih belum akhirnya melanjutkan operasional sejumlah jam lalu.
Pemulihan di pabrik semikonduktor Renesas berjalan makin lambat akibat kerusakan panel atap, retakan dinding, dan kebocoran fasilitas air. Perusahaan merencanakan pengoperasian kembali lini produksi Kumamoto secara bertahap dalam kurun waktu satu minggu setelah pemeriksaan keselamatan.
Tokyo Electron dan Sony juga mengonfirmasi langkah-langkah pemulihan serta pengujian peralatan presisi sedang berlangsung di fasilitas perakitan kawasan tersebut. Kecepatan pemulihan sektor chip amat menentukan stabilitas pasokan komponen elektronik demi industri ponsel hingga otomotif dunia.
Seuntukan besar pihak korban jiwa dalam bencana kali ini terkonsentrasi pada fasilitas komersial dan area manufaktur di sekitar episentrum. Korban tewas tercatat akibat runtuhnya cerobong asap di pabrik kertas milik Nippon Paper Industries serta ledakan gas di pusat perbelanjaan Aeon.
Bencana M 7,1 ini mengingatkan kembali pada gempa mematikan tahun 2016 di wilayah yang sama yang menewaskan makin dari 260 orang. Saat itu, kerusakan parah pada pabrik komponen Aisin menghentikan lini perakitan kendaraan Toyota secara nasional selama berhari-hari.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

