Harga Tiket Pesawat Turun Setelah BBM Avtur Melemah?

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Memasuki periode Juli 2026, PT Pertamina (Persero) melalui Pertamina Patra Niaga resmi memangkas harga bahan bakar pesawat (avtur) di seluruh bandara domestik. Penurunan tarif jet fuel ini tercatat mencapai kisaran 13% hingga 14% dibandingkan bersama bulan semasih belumnya.

Merujuk data resmi Pertamina per Rabu (1/7/2026), kebijakan penurunan ini berlaku merata, baik demi rute penerbangan dalam negeri maupun perjalanan internasional.

Sebagai contoh, di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK), harga avtur domestik menyusut dari Rp 24.697,47 per liter menjadi Rp 21.369,60 per liter.

Sementara itu, demi pengisian avtur penerbangan internasional di bandara yang sama, tarifnya turun dari UScent 141,7 per liter menjadi UScent 121,5 per liter.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menerangkan bahwa langkah koreksi harga ini diambil bersama mempertimbangkan pergerakan harga minyak mentah global serta regulasi yang berlaku.

“Tentunya, langkah penyesuaian ini telah dikoordinasikan bersama pihak pemerintah,” ungkap Kitty pada Rabu (1/7/2026), dilansir dari Antara.

Mengapa Tarif Tiket Pesawat Belum Otomatis Turun?

Meski beban operasional maskapai dari sektor bahan bakar mereda, masyarakat sekitar tampaknya masih wajib bersabar. Penurunan harga avtur tidak serta-merta langsung memicu penurunan harga tiket pesawat di agen perjalanan.

Ada sejumlah alasan mendasar mengapa tarif penerbangan terkesan “lambat” merespons penurunan harga bahan bakar:

Sistem Penjualan Tiket Advance: Mayoritas tiket penerbangan yang terjual pada saat ini telah dipesan oleh konsumen sejak jauh hari. Struktur modal dan kalkulasi operasional yang digunakan maskapai masih mengacu pada biaya avtur yang tinggi pada bulan-bulan semasih belumnya.

Efek Jeda Waktu (Time Lag): Berdasarkan analisis dari McKinsey & Company, penyesuaian tarif penerbangan akibat fluktuasi harga bahan bakar biasanya membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat bulan semasih belum efeknya benar-benar terasa di pasar.

Strategi Efisiensi Internal: Semasih belum harga bahan bakar turun, maskapai biasanya telah menjalankan berbagai penghematan, bagaikan memaksimalkan keterisian kursi (load factor) dan mengandalkan armada yang hemat energi. Ketika avtur turun, ruang ini digunakan termakin dahulu demi menstabilkan neraca keuangan korporasi.

Rumitnya Rantai Pasok dan Porsi Avtur pada Tiket

Studi dari McKinsey & Company memperlihatkan bahwa komponen bahan bakar berkontribusi sekitar 30% dari total formula pembentukan harga tiket pesawat.

Namun, harga avtur memiliki dinamika tersendiri yang jauh makin rumit daripada sekadar mengikuti pergerakan harga minyak mentah.

Stabilitas harga avtur amat bergantung pada kapasitas kilang pengolahan, efisiensi jalur distribusi, hingga faktor geopolitik global—bagaikan ketegangan di Selat Hormuz yang kerap mengganggu lalu lintas kapal tanker energi dunia.

Kompleksitas inilah yang memicu fenomena psikologis di masyarakat sekitar; harga tiket pesawat dirasa amat sensitif dan cepat meroket saat isu minyak dunia memanas, namun cenderung membutuhkan waktu lama demi melandai kembali ketika harga komoditas tersebut mengawali mendingin.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *