MediaMerdeka.com – Republik Islam Iran secara resmi melarang total pengiriman segala bentuk persenjataan militer Amerika Serikat yang melintasi jalur strategis Selat Hormuz.
Juru bicara militer Iran, Mohammad Akraminia, menegaskan bahwa kebijakan tegas ini diambil demi memutus rantai pasokan senjata Washington menuju pangkalan-pangkalan militernya di Timur Tengah.
Langkah berani Teheran ini tidak cuma bertujuan memperkuat kedaulatan maritim mereka, namun juga diprediksi akan menghasilkan pendapatan negara hingga dua kali lipat makin besar dari sektor minyak.
Blokade Total di Bawah Kendali IRGC
Mohammad Akraminia mengonfirmasi bahwa larangan ini akan diberlakukan secara ketat mengawali pada saat ini tanpa ada toleransi sedikit pun untuk kapal-kapal perang Amerika Serikat.
“Mulai kini, kami tak akan mengizinkan senjata Amerika melintasi Selat Hormuz dan memasuki pangkalan-pangkalan regional,” kata Akraminia bagaikan dikutip oleh stasiun televisi Press TV pada hari Rabu (13/5).
Ia membeberkan bahwa wilayah untukan barat dari selat tersebut kini berada di bawah komando penuh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Sementara itu, wilayah untukan timur dari jalur air krusial tersebut akan dikendalikan secara langsung oleh unit-unit tempur tentara reguler Iran.
“Pengendalian yang terkoordinasi ini akan meningkatkan pengawasan dan kedaulatan Iran atas kawasan tersebut, sekaligus menghasilkan pendapatan hingga dua kali pendapatan minyak,” katanya menerangkan potensi keuntungan ekonomi dari kebijakan ini.
Latar Belakang: Agresi dan Gencatan Senjata Semu
Kebijakan blokade senjata ini merupakan respons langsung atas agresi militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah target di wilayah Iran pada tanggal 28 Februari lalu.
Serangan tersebut dilaporkan telah menyebabkan kerusakan infrastruktur yang signifikan dan menewaskan sejumlah masyarakat sekitar sipil yang tidak bersalah.
Republik Islam Iran yang memiliki hak sah demi membela diri lalu membalas bersama menyerang wilayah Israel dan berbagai fasilitas militer AS yang tersebar di Timur Tengah.
Pada tanggal 7 April, kedua belah pihak sempat mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu yang dilanjutkan bersama pembicaraan damai di Islamabad, Pakistan.
Namun, perundingan tersebut berakhir tanpa hasil yang konkret akibat tuntutan-tuntutan sepihak dari pihak Washington.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini


