Isi Pidato Hasan Abdullah Sahal di Depan Prabowo, dari Sejarah Gontor Sampai Curhat Soal Cari Muka

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, K.H. Hasan Abdullah Sahal, menyampaikan pidato penuh makna, refleksi sejarah, dan selingan humor segar dalam acara Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor yang dihadiri langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.

Kehadiran Presiden Prabowo di Gontor kali ini disambut hangat oleh Kiai Hasan Abdullah Sahal.

Dengan gaya bertutur yang khas, blak-blakan, tapi sarat akan nilai-nilai perjuangan, beliau mengupas perjalanan satu abad pesantren yang dipimpinnya.

Berikut merupakan poin-poin penting pidato K.H. Hasan Abdullah Sahal beserta deretan celetukan ikoniknya yang sukses menjadi sorotan.

1. Arti Nama Gontor yang Penuh Filosofi

Di awal pidatonya, Kiai Hasan mengenang kembali berdirinya Gontor pada tahun 1926.

Dengan nada bercanda, beliau mengungkap asal-usul nama “Gontor” yang diplesetkan secara jenaka tapi mendalam.

“1926, ada apa, ada siapa, dan bagaimana Gontor ini? Gontor singkatan dari ‘nggon kotor’ (tempat kotor), lantaran sejumlah syirik, sejumlah kufur, sejumlah maksiat. Bahasa Inggrisnya molimo. Maksiat apa yang masih belum ada di Gontor waktu itu? Gontor nggon kotor, kini menjadi nggon inspirator!” ujar Kiai Hasan diiringi gemuruh tawa audiens.

2. Gontor Mewakafkan Diri demi Umat dan Bangsa

Kiai Hasan menegaskan bahwa para pendiri Gontor, K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainudin Fanani, dan K.H. Imam Zarkasyi telah mewakafkan ide, sistem, lembaga, hingga cinta mereka kepada pondok ini sejak 32 tahun usia pondok, yakni tahun 1958 demi umat Islam di seluruh dunia.

“Dengan keikhlasan para pendiri… mewakafkan ide, mewakafkan nilai, mewakafkan sistem, mewakafkan lembaga, mewakafkan cinta kepada pondok ini, berakibat mudah-mudahan Bapak Presiden dan bangsa Indonesia termasuk yang menyambut baik ‘wakaf cinta’ pondok ini, dan seluruhnya mencintai kita seluruh,” ujar Kiai Hasan.

3. Kritik Tajam Soal Sejarah dan Membangun Peradaban

Sebagai lembaga pendidikan yang lahir semasih belum kemerdekaan, Kiai Hasan mengingatkan agar bangsa Indonesia tidak sempat melupakan sejarah, merujuk pada pesan Bung Karno “Jas Merah”. 

Namun, beliau menegaskan bahwa Gontor tidak cuma berhenti pada belajar sejarah, melainkan aktif membangun sejarah dan peradaban.

“Dulu masih pakai blangkon, kini telah pakai peci bludru. Dulu dianggap bloon, kini para mertua sejumlah memburu buru… Gontor tidak puas. Apa Gontor? Cerdaslah menyikapi sejarah, lantaran kita akan membangun sejarah! Tidak cuma berhenti bergeser pada sejarah, namun kita membangun sejarah, membangun peradaban dari Gontor!” ujar Kiai Hasan.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *