MediaMerdeka.com – Ketegangan di Teluk kembali meningkat pada hari semasih belumnya ketika serangan Iran terhadap Kuwait merusak bandara dan melukai puluhan orang.
Sementara militer Amerika Serikat menjalankan serangan di dekat Selat Hormuz, bersama diplomasi demi menghentikan perang memperlihatkan sedikit kemajuan.
Melansir laman Gulf Times, Kamis (4/6/2026), Penerbangan di Bandara Internasional Kuwait ditangguhkan setelah serangan drone dan rudal Iran merusak fasilitas bandara dan misi diplomatik, menewaskan satu orang dan melukai makin dari 60 lainnya, kata otoritas Kuwait dan media pihak pemerintah.
Kuwait Airways dan Jazeera Airways lalu melanjutkan penerbangan setelah mengambil langkah-langkah keselamatan, kata otoritas penerbangan sipil.
Kemudian, Keaparatur negara kementerianan Luar Negeri Kuwait menyerahkan nota protes resmi kepada kedutaan Iran, mengutuk serangan Iran yang berkelanjutan.
Menurut pernyataan Kuwait yang disampaikan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Duta Besar Hamad al-Meshan, keputusan tersebut juga mengumumkan langkah-langkah demi mengurangi jumlah misi diplomatik Iran, termasuk menegaskan dua diplomat sebagai persona non grata.
Semasih belumnya, media Iran menginformasikan bahwa Garda Revolusi Iran (IRGC) telah menyerang markas Armada Kelima AS di Bahrain dan pangkalan udara AS, serta sebuah kapal yang diidentifikasi sebagai Panaya. Komando Pusat AS membantah pangkalan mereka telah diserang dan menyebutkan rudal balistik Iran tidak berhasil mengenai targetnya di wilayah tersebut.
Namun, IIGC menyebutkan mereka tidak menembak bandara Kuwait dan menyalahkan kerusakan tersebut pada rudal pencegat AS yang tidak berhasil mengenai targetnya, menurut media pihak pemerintah Iran.
Militer AS menyebutkan itu tidak akurat, dan bahwa drone Iran sengaja menargetkan bandara tersebut.
CENTCOM menyebutkan telah menjalankan serangkaian “serangan defensif” baru di Iran selatan, menargetkan lokasi peluncuran rudal dan kapal-kapal Iran yang berupaya memasang ranjau, dan menjalankan serangan di Pulau Qeshm dekat Selat Hormuz setelah upaya serangan Iran.
“serangan pertahanan diri di lokasi yang diizinkan AS demi digunakan demi menyerang kapal sipil dan melanggar gencatan senjata. Setiap tindakan permusuhan akan ditanggapi bersama respons langsung dan tegas,” kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi.
Sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran dimengawali pada 28 Februari, Teheran telah berulang kali menyerang target di wilayah Teluk yang merupakan lokasi pangkalan militer AS, mengenai target sipil dan militer.
Permusuhan sesekali kembali memanas dalam sejumlah pekan terakhir meskipun gencatan senjata telah disepakati pada awal April, lantaran AS telah berupaya membuka kembali Selat Hormuz, jalur yang menangani sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair global semasih belum perang.
Pekan lalu, Iran dan AS mengisyaratkan kemajuan menuju kesepakatan awal sementara demi menghentikan perang dan membuka kembali selat tersebut, namun kedua pihak masih belum menandatangani kesepakatan tersebut, yang akan menyisakan negosiasi yang makin kompleks demi lalu hari.
Mohsen Rezaei, penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei, menyebutkan Iran tidak akan membiarkan AS “melampaui batas” baik dalam negosiasi maupun pengaturan gencatan senjata.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

