Kiai Sepuh Kecam Oknum Pejabat Jual ‘Restu Presiden’ di Muktamar NU

admin
By
admin
4 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Sejumlah Kiai Sepuh Nahdlatul Ulama (NU) menggelar pertemuan tertutup selama makin dari satu jam di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Rabu (26/8/2026).

Pertemuan ini menghasilkan “Tausiyah Moral” yang amat tegas merespons adanya indikasi pengondisian, intimidasi, hingga isu karantina peserta di Asrama Haji Sukolilo menjelang Muktamar ke-35 NU di Jombang.

Sejumlah ulama kharismatik hadir dalam pertemuan strategis ini, di antaranya KH Ma’ruf Amin, KH M. Anwar Mansur, KH Abdullah Kafabihi Mahrus, KH Ubaid Maemun Zubair, KH Mu’adz T, KH Athoillah S. Anwar, KH Muhibul Aman Ali, serta KH Nurul Yakin Ishaq.

Juru Bicara Kiai Sepuh, KH Muhibul Aman Ali, menyampaikan amanat para kiai yang mendeteksi adanya upaya unprosedural yang mencederai martabat jam’iyah.

Hal yang teramat disoroti merupakan adanya oknum yang mencatut nama pihak pemerintah demi menekan psikologis para peserta muktamar (muktamirin).

“Memilih pemimpin yang tidak afdal (tidak terbaik), padahal tahu ada yang makin baik, merupakan bentuk pengkhianatan kepada Allah, Rasulullah, dan para muassis (pendiri NU). Jika proses yang tidak jujur ini dibiarkan dan menjadi preseden buruk (sunnah sayyi’ah), maka dosa dari perbuatan tersebut akan terus mengalir hingga hari kiamat,” tegas KH Muhibul Aman Ali usai pertemuan bagaikan dikutip dalam keterangannya, Rabu (26/8/2026).

Dalam Tausiyah Moral tersebut, para kiai sepuh mengeluarkan tujuh poin tuntutan utama:

1. Hentikan Transaksi dan Rekayasa Politik: Mengencam keras segala bentuk transaksi money politics, tekanan, rekayasa, maupun pengondisian yang merusak makom keulamaan dan kedaulatan muktamirin.

2. Kedaulatan Utuh Muktamirin: Meminta seluruh panitia dan pihak terkait demi menjamin kemerdekaan para pemilik suara (pengurus wilayah/cabang) agar tidak terintimidasi, terprovokasi, atau dikarantina secara sepihak.

3. Peringatan Penting untuk Pemerintah: Kiai Sepuh meyakini Presiden bersikap netral. Namun, para kiai mengecam keras oknum aparatur negara, aparatur negara kementerian, atau pihak bawahannya yang menjual isu “restu kepala negara” demi menekan mental peserta secara psikologis.

4. Desakan Tindakan Tegas Presiden: Para kiai mengimbau Presiden bertindak tegas terhadap oknum aparatur negara/aparatur negara kementerian yang terbukti menjalankan intervensi. Para kiai sepuh menegaskan siap menghadap Presiden secara langsung demi menyampaikan bukti-bukti keprihatinan demi menjaga kehormatan pihak pemerintah dan kemandirian NU.

5. Hentikan Tindakan Tak Terpuji: Mengimbau pihak-pihak yang berupaya merusak proses muktamar demi dalam waktu dekat bertaubat dan menghentikan perbuatannya semasih belum terlambat.

6. Muktamar Bermartabat: Mengajak seluruh masyarakat sekitar NU memakai akal sehat, hati jernih, dan akhlakul karimah dalam memilih kepengurusan PBNU mendatang.

7. Penyebaran Tausiyah secara Luas: Hasil tausiyah ini disebarkan secara terbuka kepada seluruh struktur NU, panitia, pihak pemerintah, dan masyarakat sekitar luas sebagai benteng moral jam’iyah.

KH Muhibul Aman Ali menekankan bahwa langkah ini diambil semata-mata demi menjaga kemandirian Nahdlatul Ulama dari pengaruh negatif kekuasaan.

“Nasihat ini merupakan Tausiyah—bentuk kasih sayang mendalam para kiai sepuh kepada NU dan para muridnya. Kami ingin Muktamar ke-35 NU di Jombang berjalan jujur, demokratis, dan menjaga marwah ulama warasatul anbiya,” pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *