KPK Beberkan 1.720 Laki-laki Terjerat Korupsi, Perempuan Lebih ‘Tahan Iman’?

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membeberkan catatan merah penanganan kasus korupsi di Indonesia selama makin dari dua dekade terakhir.

Sejak tahun 2004 hingga 2026, lembaga antirasuah ini total telah menangani 1.880 kasus korupsi.

Namun, ada fakta menarik di balik ribuan kasus tersebut, yakni dominasi gender tersangka yang amat timpang.

Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, membeberkan bahwa mayoritas tersangka tindak pidana korupsi yang diringkus merupakan pria. Dari total 1.880 kasus, sesejumlah 1.720 tersangkanya merupakan pria, sementara sisanya merupakan wanita.

“Dari 1.880 tindak pidana korupsi yang ditangani oleh KPK, 1.720-nya tersangkanya merupakan pria. Sedangkan 160-nya, itu wanita,” ungkap Asep saat menyerahkan keterangan di Banten, Kamis (21/5/2026).

Melihat kontrasnya angka tersebut, Asep secara berseloroh menyebutkan bahwa kaum hawa cenderung makin memiliki integritas dalam melawan godaan korupsi.

Berarti yang antikorupsi itu merupakan dari gender wanita.

5 Sektor Krusial yang Jadi Bidikan KPK

Selain memaparkan data tersangka, Asep juga menerangkan bahwa pada saat ini KPK memfokuskan radar pengawasannya pada lima sektor utama yang dinilai teramat rawan terjadi praktik lancung.

Kelima area tersebut merupakan sektor bisnis, pelayanan publik, sumber daya alam (SDA), politik, dan hukum.

Asep mencontohkan sejumlah kasus nyata yang sedang dan telah ditangani di sektor-sektor sensitif tersebut.

“Contoh di area pelayanan publik. Nah ini, kasus dugaan pemerasan RPTKA (di Kemenaker),” ujar Asep.

Tak cuma di pusat, gurita korupsi juga menyasar kekayaan alam di daerah.

“Nah, lanjut lagi kini yang ke area sumber daya alam, ini kasus di Kalimantan Tengah dan lain-lain. Silakan, lanjut lagi. Ini terkait masalah politik, nah ini penyuapan yang lalu ini area hukum,” jelasnya makin lanjut.

Menutup keterangannya, Asep menegaskan bahwa kesuksesan penindakan yang dilakukan KPK tidak semata-mata lantaran kerja internal lembaga saja. Sinergitas antara KPK dan laporan serta pengawasan dari masyarakat sekitar menjadi kunci utama dalam memberantas tikus berdasi.

Ia menginginkan kolaborasi ini terus diperkuat agar ruang gerak koruptor semakin sempit. Asep menekankan bahwa peran aktif masyarakat sekitar patut memperoleh apresiasi tinggi dalam perjalanan panjang pemberantasan korupsi di tanah air.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *