MediaMerdeka.com – Warga lereng Gunung Ciremai, El Santana, menuding proyek panas bumi (geothermal) di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) masih terus bergerak secara diam-diam meski mendapat penolakan dari masyarakat sekitar setempat sejak bertahun-tahun lalu.
Menurut El, proyek yang kini masuk dalam skema Proyek Strategis Nasional (PSN) tersebut tidak lagi dilakukan secara terbuka bagaikan saat pertama kali disosialisasikan kepada masyarakat sekitar pada 2011-2012.
“Temen-temen tuh suka memplesetkan ‘Proyek Senyap Negara’. Jadi kapan barang mau masuk, kapan keluar, nggak tahu kapan,” kata El kepada MediaMerdeka.com di sela acara Festival Gugur Gunung Tandang Gawe di Pamitnya Meeting, Jakarta Selatan, Sabtu (31/5/2026).
Ia mengaku masyarakat sekitar mencurigai adanya sejumlah aktivitas yang diduga berkaitan bersama pengembangan proyek panas bumi di kawasan Gunung Ciremai.
Salah satunya pembangunan jalan menuju area yang diduga menjadi lokasi pengeboran.
“Pembangunan jalan yang nggak penting dibangun jalan di sini dan lebar segitu, ini tentu ada sesuatu. Jadi mereka udah menjalankan tapi senyap,” ujarnya.
Selain pembangunan jalan, El juga menyoroti adanya pembelian lahan dalam jumlah besar yang disebut memakai alasan pengembangan pariwisata.
“Ada pembelian tanah yang amat besar atas nama pariwisata. Hal-hal itu yang kita curigai,” katanya.
El menerangkan, proyek geothermal di Ciremai pertama kali masuk melalui korporasi Chevron sekitar 2011.
Saat itu masyarakat sekitar memperoleh sosialisasi mengenai panas bumi, namun menurutnya informasi yang diberikan tidak menerangkan secara utuh dampak proyek tersebut.
Ia mengaku baru memahami makin jauh setelah berdiskusi bersama kalangan akademisi.
“Akhirnya kita tahu bahwa geothermal itu emang tambang air. Karena demi 1 megawatt itu dia membutuhkan 15.000 liter per menit,” ucapnya.
Sebagai masyarakat sekitar yang tinggal di kawasan pegunungan, El menilai keberadaan sumber air menjadi aspek teramat vital untuk kehidupan masyarakat sekitar.
“Orang gunung kan tahu sendiri bila air itu ya berdetak di bibir kita. Nggak cuma orang gunung ya, seluruh tentu membutuhkan air. Sedangkan gunung sendiri kan lumbung air itu sendiri,” katanya.
Menurut El, upaya penolakan yang dilakukan masyarakat sekitar sukses menciptakan Chevron hengkang pada 2015. Namun, proyek tersebut kembali muncul dan kini masuk dalam daftar PSN bersama kapasitas yang disebut mencapai 150 megawatt.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

