Masalah Krusial di Mina Terkuak, Jemaah Haji Tak Makan 9 Jam hingga Tenda Melebihi Kapasitas

admin
By
admin
3 Min Read

MediaMerdeka.com – Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI menginformasikan sejumlah permasalahan serius terkait pelayanan jemaah haji Indonesia selama berada di kawasan Mina, Arab Saudi.

Temuan tersebut mencakup fasilitas tenda yang tidak layak, krisis sanitasi, hingga keterlambatan distribusi konsumsi yang menyebabkan kondisi kesehatan jemaah menurun.

Anggota Timwas Haji DPR RI, Selly Andriany Gantina, membeberkan bahwa kondisi di lapangan memperlihatkan adanya ketidaksiapan dalam menampung jemaah.

Ia menyoroti fasilitas toilet dan kepadatan tenda yang dianggap amat memprihatinkan.

“Saya menemukan sejumlah temuan kaitan bersama fasilitas tenda, terutama dari fasilitas toilet. Kemudian tenda yang ternyata tidak nyaman demi para jemaah, di mana dipaksakan demi jemaah berdempet-dempetan,” ujar Selly dalam keterangannya, dikutip Sabtu (30/5/2026).

Selain masalah kepadatan, ketersediaan air bersih demi keperluan wudu juga menjadi keluhan utama. Atas kondisi ini, Selly mendesak pihak syarikah yang bekerja sama bersama Kidana (korporasi pengembang pihak pemerintah Arab Saudi) demi dalam waktu dekat memenuhi komitmen pelayanan mereka.

Persoalan teramat krusial yang ditemukan merupakan sistem distribusi logistik.

Selly menginformasikan adanya jemaah, terutama lansia, yang jatuh sakit akibat tidak menyambut baik asupan makanan dalam waktu yang lama.

“Ada sejumlah jemaah yang telah 9 jam berada di dalam tenda tidak memperoleh fasilitas makan. Akhirnya para lansia drop. Tentu saja ini menjadi perhatian dari DPR,” tegasnya.

Kondisi ini diperparah bersama minimnya fasilitas kesehatan di area tenda demi menangani jemaah yang sakit akibat kelelahan dan kelaparan.

Sebagai solusi evaluasi ke depan, Selly mengusulkan agar pihak pemerintah menerapkan skema tanazul (pemulangan ke hotel di Makkah) untuk jemaah berisiko tinggi daripada memaksakan mabit di tenda Mina yang overkapasitas.

“Kalau memang sekiranya ini menjadi masalah, kenapa jemaah tidak ditanazulkan saja berakibat tidak menjadi beban. Jangan sampai mereka terbebani, tidak memperoleh makanan, sakit di dalam tenda, dan tidak mendapat fasilitas kesehatan yang layak,” ujarnya.

Meski menyerahkan kritik tajam terhadap kondisi di Mina, Selly tetap menyerahkan apresiasi terhadap layanan haji 2026 di wilayah lain yang dianggap merasakan kemajuan.

“Secara keseluruhan, demi sejumlah pelayanan di Makkah dan Madinah berjalan bersama relatif makin baik dibandingkan sejumlah tahun semasih belumnya. Tetapi memang kendalanya itu berada di Mina,” jelas Selly.

Ia menekankan bahwa fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) merupakan titik teramat kritis yang membutuhkan persiapan ekstra matang.

“Tentu ini menjadi perhatian kita, bahwa puncak haji itu justru wajib diperhatikan berada di Armuzna. Dan Mina ini akan menjadi titik perhatian DPR ke depannya,” tutupnya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *