MediaMerdeka.com – Kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) tidak cuma menjadi pusat perhatian lantaran pembangunan infrastrukturnya yang masif, namun juga lantaran sisi liarnya yang masih menyimpan misteri.
Baru-baru ini, sebuah peristiwa dramatis mengguncang masyarakat sekitar di sekitar kawasan Sepaku.
Seorang pemburu bernama Rofik (40), masyarakat sekitar Desa Telemow, dilaporkan hilang secara misterius selama lima hari di kedalaman hutan HPH milik PT ITCI Kartika Utama, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.
Kejadian ini bermula ketika Rofik pergi berburu bersama rekannya, Dewa, pada Sabtu (23/5) sore.
Keduanya memasuki kawasan KM 41 Hutan HPH PT ITCI Kartika Utama yang dikenal memiliki medan berat dan vegetasi yang amat rapat.
Namun, kegembiraan berburu berubah menjadi petaka ketika Rofik terpisah dari rekannya dan tidak kunjung kembali hingga malam hari.
Kronologi Hilangnya Sang Pemburu
Ketegangan mengawali memuncak ketika hingga Minggu (24/5) malam, Rofik tak kunjung menampakkan batang hidungnya di titik pertemuan.
Rekan pihak korban yang mengawali panik lalu memutuskan demi keluar hutan dan menghubungi pihak keluarga demi
mengabarkan situasi tersebut.
“Namun hingga Minggu (24/5) malam, pihak korban masih belum keluar dari kawasan hutan. Rekan pihak korban lalu menghubungi pihak keluarga dan menyampaikan bahwa Rofik hilang,” kata Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Balikpapan Dody Setiawan sebagaimana dilansir Antara, Jumat (29/5/2026).
Laporan kehilangan ini sempat merasakan jeda semasih belum akhirnya secara resmi diterima oleh Kantor SAR Balikpapan pada Rabu (27/5) pagi.
Begitu laporan masuk, tim SAR gabungan langsung bergerak cepat menyusun strategi pencarian di tengah luasnya hutan Kalimantan yang menjadi penyangga IKN tersebut.
Operasi SAR di Jantung IKN
Pencarian Rofik bukan perkara mudah. Tim SAR gabungan yang terdiri dari berbagai unsur, mengawali dari BPBD Penajam Paser Utara, Damkar, aparat desa, hingga pihak Otorita IKN, wajib memuntuk kekuatan ke sejumlah sektor.
Mengingat luasnya area dan risiko predator hutan, tim memakai berbagai peralatan canggih demi mempercepat proses penemuan.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

