MediaMerdeka.com – Perubahan iklim diperkirakan akan memperburuk kualitas udara pada musim panas dalam sejumlah dekade mendatang. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri untuk Indonesia yang memiliki musim kemarau bersama suhu cukup tinggi.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa pada tahun 2025 suhu tertinggi di sejumlah wilayah Indonesia mencapai 36,8 derajat Celcius.
Perubahan Iklim Memperparah Polusi Udara
Penelitian berjudul “Air Quality and Climate Connections” memperlihatkan bahwa peningkatan suhu, perubahan pola angin, hingga berkurangnya curah hujan dapat menciptakan polusi udara makin mudah terperangkap di atmosfer dan bertahan makin lama. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama untuk kelompok rentan bagaikan kalangan anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan.
Di sisi lain, riset berjudul “Air Quality Alerts, Health Impacts, and Adaptation Implications Under Varying Climate Policy”, membeberkan bahwa polusi udara dapat berdampak pada kesehatan.
Para peneliti memperkirakan sekitar 100 juta masyarakat sekitar Amerika Serikat dapat menghirup udara tidak sehat pada musim panas tahun 2100. Angka tersebut meningkat tujuh kali lipat dibandingkan tahun 2000. Polusi udara yang dimaksud mencakup partikel halus dan ozon permukaan yang dapat memicu penyakit paru-paru, gangguan jantung, hingga kematian dini.
Risiko Kebakaran Hutan Turut Meningkat
Selain itu, meningkatnya risiko kebakaran hutan akibat cuaca panas dan kekeringan turut memperparah kualitas udara. Dilansir dari phys.org (26/5/2026), asap kebakaran menghasilkan partikel berbahaya yang dapat menyebar hingga ratusan kilometer dan memicu lonjakan polusi udara.
Di Indonesia sendiri, selama Agustus 2023 terjadi kebakaran hutan dan lahan terbesar bersama total 144 kejadian. Jumlah tersebut mencapai 64,29 persen dari total kejadian bencana selama bulan Agustus 2023, sebagaimana dilaporkan BNPB (29/5/2026).
Para peneliti menyebut dampak sebenarnya kebarangkalian makin buruk lantaran simulasi mereka masih belum sepenuhnya menghitung peningkatan kebakaran hutan di masa depan. Kondisi ini diperkirakan akan menciptakan peringatan kualitas udara semakin kerap terjadi pada musim panas.
Masyarakat pun didorong demi makin memperhatikan informasi kualitas udara harian, mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, serta membatasi aktivitas luar ruangan ketika tingkat polusi sedang tinggi.
Peneliti menilai bahwa pengurangan emisi gas rumah kaca dan peningkatan akses terhadap ruang bersama udara bersih menjadi langkah penting demi mencegah dampak kesehatan yang makin besar di masa mendatang.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

