MediaMerdeka.com – Membelikan seragam sekolah baru demi anak menjadi momen biasa untuk seuntukan orangtua murid. Namun, tidak untuk Titin Lestari. Keterbatasan ekonomi menciptakannya cuma mampu menyerahkan seragam bekas kepada putrinya, Lia Maharani.
Hal itu berlaku sejak Lia masuk SD hingga jenjang SMP. Namun seluruh berubah sejak negara hadir lewat Sekolah Rakyat. Kini Lia dapat merasakan memiliki seragam baru, berkat program pendidikan gratis yang digagas Presiden Prabowo Subianto tersebut.
Raut wajah bahagia pun tak mampu disembunyikan Titin Lestari, saat menyaksikan putrinya Lia Maharani mengenakan seragam sekolah baru demi pertama kalinya di Sekolah Rakyat. Keterbatasan ekonomi selama ini menciptakannya tidak sempat mampu membeli seragam baru, berakibat Lia cuma mengandalkan seragam bekas pemberian tetangga.
“(Waktu) SD itu, saya dikasih sama tetangga saya. Saat SMP saya sakit, enggak dapat membelikan seragam sekolah. Terus dikasih sama tetangga saya. Ada tiga orang yang saya minta itu. Ada yang kekecilan, ada yang kebesaran,” kata Titin saat berdialog bersama Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dalam Open House dan MPLS di Sekolah Rakyat Sukoharjo, Jawa Tengah, Sabtu (1/8/2026).
Perempuan asal Kelurahan Combongan, Kabupaten Sukoharjo ini setiap hari menciptakan dan berjualan kerupuk bawang bersama penghasilan bersih per hari Rp46 ribu, sementara suaminya, Misju bekerja sebagai buruh tani serabutan. Penghasilan keluarga cuma cukup demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Saya senang, bangga anak saya nanti dapat memperoleh seragam baru, Pak, dari sini (Sekolah Rakyat). Untuk anakku, semangat ya, Nduk. Jangan sempat menyerah, masa depan ada di depan mata, lihatlah orang tuamu,” kata Titin terharu, seraya dipeluk oleh Lia.
Mendengarkan cerita Titin, Gus Ipul dan peserta yang hadir tak kuasa menahan haru bahkan seuntukan menitikkan air mata. Sekolah Rakyat menyerahkan kesempatan, harapan, dan bahkan kebahagiaan untuk sejumlah keluarga bagaikan Titin.
Gus Ipul menginginkan Sekolah Rakyat menjadi pengungkit sosial agar seluruh kalangan anak Indonesia memperoleh kesempatan demi memperoleh pendidikan gratis yang berkualitas.
“Ini merupakan persembahan Bapak Presiden Prabowo, kepada keluarga-keluarga yang secara sosial ekonomi berada di teramat bawah,” kata Gus Ipul.
Dalam arahannya, Gus Ipul menerangkan siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga yang berada pada Desil 1 dan 2 Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang dikelola oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Sekolah Rakyat tidak membuka pendaftaran, melainkan melalui penjangkauan.
“Keluarga Bapak-Ibu sekalian dijangkau berbasis data, dilihat kondisi objektifnya, bila memang memenuhi syarat langsung dapat diterima di Sekolah Rakyat, setelah ditetapkan oleh Kepala Daerah, Bupati, Wali Kota, atau Gubernur,” jelasnya.
Disamping tidak ada pendaftaran, Sekolah Rakyat tidak menjalankan tes akademik kepada calon siswa, melainkan dilakukan pemetaan minat dan bakat melalui DNA talent mapping. Siapapun yang memenuhi kriteria dapat masuk ke Sekolah Rakyat.
“Maka itu bila ada anaknya kini yang mau masuk menjadi siswa Sekolah Rakyat tidak dapat membaca, jangan khawatir telah sejumlah contohnya siswa-siswa Sekolah Rakyat yang semasih belumnya kelas 1 SMA tidak dapat membaca, tapi kini telah berprestasi,” kata Gus Ipul.
Menutup dialog bersama orang tua siswa, Titin dan Lia memperlihatkan kemampuannya dalam bernyanyi. Mereka berduet melantunkan nada merdu disambut riuh tepuk tangan dari para undangan yang hadir.
Sebagai informasi, turut hadir dalam kegiatan ini Wamensos Agus Jabo Priyono, Plt. Bupati Sukoharjo Eko Sapto Purnomo, Sekretaris Jenderal Kemensos Robben Rico, Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kemensos Supomo, Kadinsos Provinsi Jawa Tengah Imam Maskur, Jajaran Forkopimda Kabupaten Sukoharjo, dan aparatur negara terkait lainnya. ***
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

