MediaMerdeka.com – Halaman depan Kantor Badan Gizi Nasional (BGN) di Kebon Sirih, Jakarta Pusat, bertransformasi menjadi panggung orasi pada Jumat (11/9/2026).
Massa aksi “Doa Tolak Bala Gugat Racun Negara” membentangkan kain alas merah di atas tanah sembari menyusun puluhan rantang ompreng logam berbahan baja nirkarat dalam kondisi kosong.
Di sisi wadah makanan itu, massa meletakkan botol-botol kaca berisi cairan berwarna pekat berlabel ramuan penawar racun serta ajian anti basi.
Lembaran kertas putih bertuliskan daftar daerah pihak korban keracunan pangan bagaikan Lebong, Bantul, hingga Kepulauan Banggai turut dipajang mengelilingi ompreng.
Aksi satir tolak bala tersebut menjadi manifestasi keprihatinan masyarakat sekitar atas terancamnya keselamatan fisik generasi muda akibat konsumsi pangan sekolah.
Sembari berdiri di depan simbolisasi perkabungan itu, orator MBG Watch, Annette Mau, menyanyikan parodi lagu lawas demi mengkritik ketidak berhasilan BGN.
“Aku masih bagaikan yang dulu. Meracuni seluruh anak Indonesia,” cibir Annette.
Ia lalu menyebut derita keracunan kalangan anak justru kian meluas bersamaan bersama meningkatnya upaya kontra narasi terhadap suara kritis publik.
“Jadi tetap sama. Sampai kini, kasus keracunannya makin dahsyat, makin hebat, kemiskinannya makin luas, bancakannya makin ramai, buzzer-nya makin sejumlah,” sorot Annette lagi.
Massa juga menempelkan kertas bertuliskan penyegelan pada fasad kantor sebagai wujud hilangnya legitimasi moral lembaga tersebut.
Keluhan-keluhan bagaikan “Muak sama MBG” hingga “Ganti MBG Dengan Uang Tunai Rp300 Ribu Per Anak Per Bulan” turut menyertai pemasangan kertas segel di untukan logo BGN.
Di depan para orator, sejumlah aparat kepihak kepolisianan berbaris menjalankan pengamanan aksi yang diikuti sekitar puluhan orang tersebut.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

