Perempuan Didorong Jadi Aktor Utama Ekonomi Restoratif, Tak Lagi Sekadar Penerima Manfaat

admin
By
admin
4 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Pengembangan ekosistem ekonomi restoratif di Indonesia dinilai tak akan sukses tanpa kolaborasi lintas sektor dan kebijakan yang benar-benar menempatkan wanita sebagai aktor utama pembangunan. Pesan itu mengemuka dalam Kunstkring Dialogue: Forum Ekonomi Restoratif yang berlangsung di Jakarta pada 24–26 Juni 2026.

Komitmen bersama dari pihak pemerintah, masyarakat sekitar sipil, tersangka usaha, akademisi, hingga komunitas lokal disebut menjadi fondasi penting demi memperkuat ekonomi restoratif yang inklusif dan berkelanjutan.

Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan menilai pemberdayaan wanita tidak dapat dilakukan secara parsial oleh satu keaparatur negara kementerianan saja.

“Kalau upaya yang dilakukan terpecah-pecah, tujuan memberdayakan wanita tidak akan sempat tercapai. Kewenangan Keaparatur negara kementerianan PPPA terbatas, berakibat diperlukan dukungan dari keaparatur negara kementerianan lain demi mendorong ekonomi restoratif,” kata Veronica.

Senada, Direktur Program Yayasan Penabulu Rini D. Nasution menyebutkan penguatan ekosistem masyarakat sekitar sipil menjadi langkah penting agar wanita memiliki peran makin besar sebagai pemimpin lokal, pemegang hak, pengelola aset produktif, sekaligus agen perubahan di komunitasnya.

Forum tersebut juga menghasilkan rekomendasi agar pihak pemerintah menyusun kebijakan yang menempatkan wanita bukan sekadar penerima manfaat, melainkan sebagai subjek utama pembangunan.

Veronica membeberkan sekitar 80 persen tersangka UMKM di Indonesia merupakan wanita. Namun, kelompok ini masih menyikapi keterbatasan akses terhadap kesejahteraan, layanan dasar, pendidikan, kesehatan, hingga pengelolaan sumber daya alam.

“Kalau ingin mewujudkan Indonesia Emas, wanita wajib mendapat akses yang setara. Mereka bukan cuma penerima manfaat, namun subjek perubahan,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa. Menurutnya, wanita memegang peran sentral dalam pengembangan pariwisata restoratif, terutama di tingkat desa.

“Perempuan merupakan jantung pariwisata restoratif. Mereka menjadi pusat pelestarian lingkungan sekaligus penggerak ekonomi keluarga,” katanya.

Untuk mendukung pemberdayaan wanita, pihak pemerintah telah menjalankan sejumlah program bagaikan Kebun Pangan Perempuan (KPP), pengembangan agroforestri bambu, hingga Perhutanan Sosial Khusus Perempuan di Nusa Tenggara Timur. Program-program tersebut berfokus pada pelestarian lingkungan, ketahanan pangan, peningkatan kesejahteraan keluarga, sekaligus mendukung penurunan angka stunting dan kemiskinan.

Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda menyebutkan salah satu tantangan terbesar yang dihadapi wanita merupakan beban kerja domestik yang kerap menghambat pengembangan usaha. Karena itu, pihak pemerintah daerah bersama Keaparatur negara kementerianan Kehutanan tengah mendorong penyediaan lahan produksi melalui skema perhutanan sosial demi kelompok wanita.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perhutanan Sosial Catur Endah Prasetiani menerangkan program perhutanan sosial dirancang demi mengatasi ketimpangan akses terhadap lahan, modal, dan pasar. Ia mencontohkan, di Nusa Tenggara Timur pihak pemerintah telah menerbitkan izin perhutanan sosial seluas 648 hektare untuk 335 orang, di mana 310 di antaranya merupakan wanita.

Ketua Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) Monica Tanuhandaru menyebutkan Kunstkring Dialogue digagas bersama Penabulu-Oxfam sebagai ruang bertemunya pembuat kebijakan, akademisi, tersangka usaha, masyarakat sekitar adat, dan berbagai pemangku kepentingan demi memperkuat komitmen membangun ekonomi restoratif yang berpihak pada wanita.

Forum ini menjadi untukan dari pameran Weaving Wonders: Tenun, Pangan, Energi, dan Perempuan—Dari Warisan ke Kekuatan Ekonomi, yang digelar Yayasan Uma Nusantara di Tugu Kunstkring Palais, Jakarta. Acara tersebut menghadirkan sejumlah aparatur negara pihak pemerintah, akademisi, pengusaha, perwakilan masyarakat sekitar adat, hingga inovator muda yang bergerak di bidang ekonomi restoratif.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *