Persoalan Karhutla di Kalimantan, Pakar Kehutanan: Jangan Bikin Panik Masyarakat

admin
By
admin
2 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan menjadi perhatian publik dalam sejumlah hari terakhir.

Namun, masyarakat sekitar diminta tidak langsung panik cuma berdasarkan data titik panas atau hotspot yang beredar.

Guru Besar Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak sekaligus Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Prof H Gusti Hardiansyah, menyebutkan data hotspot perlu dibedakan dari fakta kebakaran yang benar-benar terjadi di lapangan.

Menurutnya, setiap titik panas yang terdeteksi melalui sistem pemantauan perlu dikonfirmasi bersama pengecekan langsung atau ground truthing.

“Kalau saya lihat nih, kita wajib bedakanlah bersama data ya. Saya merasa seminggu ini terlalu panik. Pemberitaan-pemberitaan itu panik kesannya,” ujar Gusti.

Gusti menerangkan data titik panas dapat diperoleh dari Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Keaparatur negara kementerianan Kehutanan maupun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Namun, data tersebut tetap membutuhkan verifikasi di lapangan demi mengetahui kondisi sebenarnya.

“Data hotspot dari SiPongi, dari BMKG, itu kan perlu di-ground truthing,” katanya.

Ia mencontohkan laporan mengenai sekitar 3.400 hotspot yang sempat terdeteksi di Kalimantan Barat. Jumlah serupa juga disebut muncul di Kalimantan Tengah.

Namun, setelah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama tim menjalankan pengecekan langsung, jumlah lokasi yang benar-benar memperlihatkan adanya kebakaran ternyata makin sedikit.

“Pagi harinya dapat berita 3.400-an hotspot, di Kalteng juga demikian. Tapi setelah BNPB dan tim turun, itu kurang dari itu,” ujarnya.

Karena itu, Gusti mengimbau informasi mengenai karhutla disampaikan secara proporsional agar tidak menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat sekitar.

Meski mengimbau masyarakat sekitar tidak panik, Gusti mengakui dampak karhutla dan kabut asap telah terasa di sejumlah wilayah.

Ia menyinggung kondisi di Malaysia yang berada di Pulau Kalimantan. Menurutnya, terdapat laporan sekitar 600 sekolah di Malaysia diliburkan akibat kondisi kabut asap.

“Saya pikir memang kebetulan anginnya ke arah sana,” katanya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *