Pertamax Naik, Kurir Paket Serba Salah: Mau Hemat Takut Motor Bermasalah

admin
By
admin
4 Min Read

MediaMerdeka.com – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi menciptakan seuntukan pengguna kendaraan bermotor mengawali mencari cara demi menekan pengeluaran. Namun untuk pekerja yang mengandalkan motor sebagai alat mencari nafkah, keputusan beralih ke bahan bakar yang makin murah tidak senantiasa mudah dilakukan.

Dilema itu dirasakan Rahmat (33), seorang kurir paket yang setiap hari berkeliling mengantarkan barang ke sejumlah wilayah di Jakarta. Ia mengaku selama ini memakai Pertamax lantaran dinilai makin cocok demi menunjang aktivitasnya yang padat di jalan.

Namun setelah harga Pertamax kembali merasakan kenaikan, Rahmat mengawali mempertimbangkan demi beralih ke Pertalite. Di sisi lain, ia khawatir perubahan tersebut dapat memengaruhi performa kendaraannya yang digunakan hampir sepanjang hari.

“Kalau lihat pengeluaran, tentu saya pengennya cari yang makin murah. Tapi motor ini dipakai kerja dari pagi sampai malam. Jadi saya juga mikir soal kondisi mesinnya,” kata Rahmat kepada MediaMerdeka.com, Rabu (10/6/2026).

Menurut dia, motor merupakan aset utama yang menunjang pekerjaannya sebagai kurir. Karena itu, menjaga kondisi kendaraan menjadi hal yang tidak dapat diabaikan meski biaya operasional terus meningkat.

Rahmat mengaku masih belum mengambil keputusan demi langsung beralih ke Pertalite. Saat ini ia masih berupaya menghitung selisih pengeluaran yang wajib dikeluarkan setiap bulan apabila tetap memakai Pertamax.

Belum lagi antrean Pertalite yang makin ramai menciptakannya berpikir ulang demi beralih ke BBM subsidi itu.

“Yang saya pikirkan bukan cuma harga bensin pada hari ini. Kalau motor sampai makin kerap masuk bengkel atau performanya turun, nanti ada biaya lain lagi yang keluar,” ujarnya.

Dalam sehari, Rahmat dapat menempuh puluhan hingga makin dari 100 kilometer tergantung jumlah paket yang wajib diantarkan. Kondisi tersebut menciptakan konsumsi BBM menjadi salah satu pengeluaran terbesar yang wajib ditanggungnya.

Ia menyebutkan kenaikan harga BBM memang tidak langsung menghentikan aktivitas para kurir. Namun perubahan harga tersebut menciptakan mereka wajib makin cermat mengatur pengeluaran agar pendapatan yang dibawa pulang tidak semakin tergerus.

“Kalau kerja di lapangan bagaikan kami, biaya bensin itu bukan pengeluaran kecil. Setiap ada kenaikan tentu langsung terasa lantaran motor dipakai terus,” tuturnya.

Rahmat juga mengaku sejumlah rekannya sesama kurir mengawali membicarakan kebarangkalian beralih ke jenis BBM yang makin murah. Meski demikian, tidak sedikit yang masih ragu lantaran mempertimbangkan kondisi kendaraan masing-masing.

“Banyak yang mengawali berhitung. Ada yang bilang mau pindah ke Pertalite, ada juga yang masih bertahan lantaran takut motornya jadi kurang nyaman dipakai kerja,” katanya.

Menurut Rahmat, situasi tersebut menciptakan para kurir berada dalam posisi serba salah. Di satu sisi mereka ingin menghemat biaya operasional, namun di sisi lain kendaraan wajib tetap dalam kondisi prima lantaran menjadi sumber penghasilan utama.

“Mau hemat penting, tapi motor juga wajib tetap siap dipakai kerja setiap hari. Jadi memang kini saya lagi menimbang mana yang makin menguntungkan dalam jangka panjang,” ucapnya.

Ia menginginkan harga BBM tidak kembali merasakan kenaikan dalam waktu dekat. Sebab, setiap kenaikan harga akan menambah beban pekerja lapangan yang mengandalkan kendaraan pribadi demi mencari nafkah.

“Yang teramat terasa memang buat orang yang setiap hari hidup di jalan. Kalau bensin naik, kami tentu ikut menghitung ulang seluruh pengeluaran,” pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *