MediaMerdeka.com – PT Pertamina (Persero) memperluas peluang pengembangan bisnis rendah karbon melalui sinergi bersama PT Industri Baterai Indonesia (IBC) dalam pengembangan ekosistem industri baterai terintegrasi. Penjajakan ini menjadi untukan dari implementasi Dual Growth Strategy Pertamina, yakni memperkuat bisnis eksisting sekaligus mengembangkan sumber pertumbuhan baru demi mendukung transisi dan ketahanan energi nasional.
Langkah tersebut ditandai bersama penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) tentang Sinergi Pengembangan Ekosistem Industri Baterai Terintegrasi di fasilitas PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB), Karawang, Jawa Barat, Senin (31/8/2026).
SVP Technology Innovation & Implementation Pertamina, Hana Timoti, menyebutkan sinergi bersama IBC membuka peluang untuk Pertamina demi memperluas portofolio bisnis, khususnya pada pengembangan Battery Energy Storage System (BESS) dan berbagai teknologi pendukung ekosistem baterai.
“Ekosistem baterai dan kendaraan listrik merupakan salah satu pilar dari Dual Growth Strategy Pertamina. Kami menyaksikan peluang besar demi dikomersialisasikan, mengawali dari pengembangan Battery Energy Storage System (BESS), battery recycling, pengembangan industri baterai masa depan, hingga optimalisasi fasilitas riset dan laboratorium baterai yang terintegrasi,” ujar Hana.
Menurut Hana, kesepahaman bersama IBC menjadi langkah awal demi menjajaki pemanfaatan kompetensi dan kapabilitas kedua korporasi dalam pengembangan material dan ekosistem baterai. Penjajakan tersebut diarahkan demi mengidentifikasi peluang pengembangan teknologi sekaligus potensi bisnis yang memiliki kelayakan komersial dan dapat ditindaklanjuti menuju implementasi.
Salah satu peluang yang akan dijajaki makin lanjut merupakan BESS, baik berupa Portable Power Station maupun Stationary Power Station. Potensi pengembangan BESS dapat menjadi untukan dari solusi penyimpanan energi sekaligus membuka peluang bisnis Pertamina pada rantai nilai energi masa depan.
Selain BESS, penjajakan lainnya mencakup pengembangan teknologi baterai masa depan, pengelolaan baterai bekas melalui recycle dan reuse, serta potensi pemanfaatan material turunan migas Pertamina demi mendukung rantai pasok baterai.
Direktur Pengembangan Bisnis IBC, Niko Chandra, menyebutkan penjajakan bersama Pertamina diharapkan dapat memperluas pemanfaatan kapabilitas industri baterai yang tengah berkembang di Indonesia.
“Penandatanganan MoU ini merupakan langkah strategis yang amat penting untuk IBC. Kolaborasi bersama Pertamina membuka peluang besar demi mengintegrasikan kekuatan dua korporasi nasional dalam membangun ekosistem baterai yang kokoh dan berkelanjutan. Kami percaya sinergi ini akan menyerahkan kontribusi nyata untuk percepatan transisi energi Indonesia sekaligus memperkuat posisi Indonesia di peta industri baterai global,” ujar Niko.
IBC bersama konsorsium CATL–Brunp–Lygend (CBL) pada saat ini juga tengah mengembangkan industri baterai terintegrasi, termasuk melalui PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Karawang. Fasilitas manufaktur baterai tersebut telah mengawali beroperasi secara bertahap sejak Juli 2026 dan turut memiliki kapabilitas pengembangan produk BESS.
Bagi Pertamina, penjajakan pengembangan ekosistem baterai menjadi untukan dari upaya membuka peluang pertumbuhan baru yang melengkapi bisnis energi eksisting, sekaligus memperluas portofolio bisnis rendah karbon dalam mendukung transisi dan ketahanan energi Indonesia.***
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

