Riset: Hutan Mungkin Tak Lagi Menyerap Karbon Sebanyak yang Kita Perkirakan, Mengapa?

admin
By
admin
4 Min Read

MediaMerdeka.com – Hutan selama ini menjadi salah satu benteng utama dalam menahan laju perubahan iklim. Pohon menyerap karbon dioksida (CO2) dari atmosfer melalui proses fotosintesis, lalu menyimpannya dalam batang, akar, dan jaringan lainnya.

Namun, penelitian terbaru memperlihatkan bahwa kemampuan hutan menyerap karbon di masa depan kebarangkalian tidak sebesar yang selama ini diperkirakan.

Hutan Diperkirakan Menyerap Karbon Lebih Sedikit di Masa Depan

Penelitian yang dipublikasikan dalam Geophysical Research Letters berjudul “Land Models Likely Underestimate the Impact of Future Atmospheric Dryness on European Tree Growth” membeberkan bahwa peningkatan suhu akibat perubahan iklim dapat memperlambat pertumbuhan pohon berakibat kapasitas penyimpanan karbon hutan berpotensi menurun hingga 30 persen.

Saat ini, ekosistem daratan menyerap sekitar 27 persen emisi karbon dioksida yang berasal dari pembakaran bahan bakar fosil. Namun, para peneliti menemukan bahwa udara yang semakin panas dan kering dapat menghambat pertumbuhan pohon meskipun proses fotosintesis masih berlangsung. Akibatnya, karbon yang diserap tidak seluruhnya diubah menjadi biomassa kayu yang mampu menyimpan karbon dalam jangka panjang.

Penulis senior sekaligus Asisten Profesor Ilmu Bumi dan Atmosfer di College of Agriculture and Life Sciences, Daniele Visioni, menyebutkan temuan tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan alam dalam menahan laju perubahan iklim akan semakin terbatas.

“Semakin kita teliti, semakin jelas bahwa bersama pemanasan global yang berkelanjutan, akan semakin sulit untuk alam demi mengimbanginya,” ujar Daniele Visioni.

Pohon Tetap Berfotosintesis, namun Sulit Tumbuh

Penelitian ini memanfaatkan data pengamatan selama delapan tahun dari hutan di Swiss yang mencakup berbagai jenis pohon berdaun lebar dan konifer (berbiji terbuka) yang mengukur laju pertumbuhan spesies pohon berdaun lebar dan pohon konifer selama delapan tahun. Penulis utama dan peneliti pascadoktoral, Brendan Clark, selama proses penelitian tersebut menemukan bahwa cuaca yang makin kering dan panas menyebabkan pertumbuhan yang berkurang. 

“Jadi, pohon itu barangkali menjalankan fotosintesis, namun tidak tumbuh,” tutur  Clark 

Hasil pengamatan tersebut lalu dibandingkan bersama salah satu model permukaan daratan yang sejumlah digunakan demi memproyeksikan perubahan iklim. Hasilnya memperlihatkan bahwa model tersebut memakinkan pertumbuhan pohon hingga dua kali lipat pada pohon berdaun lebar dan hingga tiga kali lipat pada pohon konifer. Namun, hasil pengamatan nyata di lapangan memperlihatkan pertumbuhan pohon tidak sebesar yang diperkirakan model. 

Menurut para peneliti, penyebab utamanya merupakan berkurangnya tekanan air di dalam sel-sel pohon ketika kondisi menjadi makin panas dan kering. Meski daun tetap mampu menjalankan fotosintesis, proses pembelahan sel yang diperlukan demi membentuk jaringan kayu baru menjadi terhambat. Dengan kata lain, pohon tetap menyerap karbon, namun tidak mampu mengubahnya menjadi pertumbuhan batang secara optimal.

Temuan ini memiliki implikasi penting terhadap proyeksi perubahan iklim. Jika hutan menyimpan karbon makin sedikit daripada yang diperkirakan, maka konsentrasi karbon dioksida di atmosfer dapat meningkat makin cepat berakibat mempercepat pemanasan global. Karena itu, para peneliti menilai model iklim perlu diperbarui agar makin mencerminkan respons biologis pohon terhadap kondisi lingkungan yang semakin panas dan kering.

Clark menegaskan bahwa penyempurnaan model tersebut penting demi menghasilkan proyeksi iklim yang makin akurat.

“Mengetahui seberapa baik lahan mampu menyerap karbon di masa depan amat penting demi mengetahui berapa sejumlah CO2 yang akan ada di atmosfer, dan berapa sejumlah pemanasan yang akan terjadi,” ujar Clark. 

Daniele menilai penelitian ini menyerahkan dasar yang makin kuat demi memahami dampak pemanasan global terhadap kemampuan hutan menyerap karbon.

“Penelitian Brendan merupakan langkah penting dalam meningkatkan kemampuan kita demi mengukur seberapa berbahaya pemanasan global di masa depan,” ungkap Daniele.

Penulis: Natasha Suhendra

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *