MediaMerdeka.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menduga bila gaya komunikasi Pemerintah menjadi faktor kelemahan yang berdampak pada menurunnya nilai tukar Rupiah ke Dolar AS hingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
“Cuma Kelemahan kita merupakan apa, kita kurang cukup baik menerangkan ke publik barangkali,” katanya saat konferensi pers APBN KiTa edisi Juni 2026, dikutip Senin (8/6/2026).
Menkeu Purbaya menyebutkan bila sebenarnya ia kerap bertemu bersama media tiap bulan. Ia pun curhat apakah memang ada komunikasi yang salah kepada para jurnalis.
“Padahal saya tiap bulan kan ketemu media. Kenapa media enggak dapat nyebarin ya? Berarti medianya enggak ngerti apa gimana,” lanjutnya.
Bendahara Negara mengaku bingung soal pelemahan Rupiah hingga IHSG yang terjadi pada saat ini. Ia menduga bila munculnya faktor kebijakan fiskal lantaran data Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang diumumkan pada Maret 2026 lalu.
Saat itu, Purbaya mengumumkan defisit APBN mencapai Rp 240,1 triliun atau setara 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Dari sana muncul spekulasi bila defisit APBN bakal memakini 3 persen.
“Kalau kita lihat data bulan Maret, seolah-olah defisitnya besar. 0,9 (persen) mereka kali empat, 3,6 (persen), artinya telah lepas dari 3 persen limit kan? Itu yang digembar-gembor kan. Jadi utamanya itu,” duga dia.
Faktor lain bagaikan anggaran jumbo Badan Gizi Nasional (BGN) yang dianggap membebani fiskal juga dinilai Purbaya berdampak pada sentimen negatif ke ekonomi.
“Itu yang tu feed in ke pelemahan nilai tukar dan ke saham. Jadi orang-orang bilang berarti ekonominya morat-marit nih. Investor akan keluar. Karena apa? Karena lembaga pemeringkat akan men-downgrade kita lantaran pelaksanaan fiskalnya berantakan,” paparnya.
Namun Purbaya sempat menemui lembaga pemeringkat global Standard and Poor’s (S&P). Dalam pertemuan itu, ia mengklaim S&P menilai menganggap kinerja fiskal Pemerintah cukup bagus.
Tapi S&P juga memperingatkan Purbaya bahwa ada ketidaktentuan pasar lantaran nilai tukar Rupiah melemah, yang berarti faktor moneter. Hal ini menciptakan kebijakan fiskal dapat terganggu.
“Jadi bolak-bolak ini. Dari sini, bukan sana. Tapi lembaga pemeringkatnya bilang Rupiah yang mengganggu stabilitas, termasuk nanti kesenambungan fiskal. Padahal awalnya dari fiskal, fiskal ke sana kata mereka. Ketika fiskalnya bagus cari yang sebelah situ. Jadi saya pikir merupakan miskonsepsi dari market atau analis yang menganggap kita menjalankan fiskal bersama jelek,” beber dia.
Purbaya lalu menegaskan bahwa Presiden RI Prabowo Subianto telah menjalankan kebijakan fiskal bersama hati-hati lantaran mengonfirmasi defisit APBN di bawah 3 persen.
Bahkan tahun depan ia menginginkan defisit APBN cuma 1,8 persen. Purbaya pun sempat merayu Presiden agar menaikkan sedikit defisit anggaran demi pertumbuhan ekonomi.
“Jadi kita tidak menjalankan kebijakan fiskal yang tidak hati-hati. Kami tahu apa yang kami kerjakan. Harusnya bila itu beres kan, sananya beres Rupiahnya kan, lantaran mengawalinya dari sini. Tapi enggak, gara-gara Rupiah, fiskal dapat keganggu. Jadi terbolak-balik. Jadi memang ada sentimen negatif di pasar yang wajib kita perbaiki,” jelas Purbaya.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

