MediaMerdeka.com – PT Geo Dipa Energi (Persero) tengah mengkaji opsi skema pembiayaan kreatif (creative financing) melalui penerbitan obligasi berwawasan lingkungan (green bond).
Langkah ini disiapkan guna memenuhi kebutuhan ekuitas dan modal pembangunan proyek pengembangan energi panas bumi ke depan, tanpa wajib menjalankan penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering atau IPO).
Direktur Utama PT Geo Dipa Energi (Persero), Yudistian Yunis, membeberkan bahwa pilihan memakai instrumen obligasi diambil agar pengelolaan dan kendali kepemilikan lembaga geothermal tersebut tetap berada di internal korporasi.
Strategi special mission vehicle (SMV) alias lembaga di bawah naungan Keaparatur negara kementerianan Keuangan (Kemenkeu) itu berbeda apabila dibandingkan bersama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE).
“Salah satu lantaran dibilang mengawali mencari creative finance, salah satu yang kita siapkan merupakan bond. Yang mau kita lepas, bila bond itu kan cuma nilai tertentu yang kita mau lepas dan pengelolaan korporasi masih di dalam kita. Kalau PGE itu yang dilakukan kan IPO, IPO berakibat hampir 30% saham PGE itu dimiliki private, berakibat akhirnya private punya pengaruh di sana,” katanya dalam Media Gathering Kemenkeu di Bogor, Jawa Barat, dikutip Selasa (6/10/2026).
“Tapi bila bond, bagaikan yang telah terjadi sejumlah kayak PLN kan menerbitkannya bond. Jadi dia punya punya kewajiban saja demi menyetorkan kuponnya nanti,” lanjut dia.
Rencana penerbitan green bond Geo Dipa ini telah masuk dalam skema Rencana Jangka Panjang (RJP) korporasi demi jangka waktu 10 tahun. Yudistian menyebutkan bahwa pihak manajemen pada saat ini sedang mematangkan kajian terkait skema teknis, besaran, hingga target waktu penerbitannya.
“Nah, itu jadi untukan dari rencana Geo Dipa yang juga telah masuk di rencana RJP 10 tahunan. Nah, barangkali di tahun depan kita lagi menyiapkan kajiannya bond-nya kapan dan berapa rencana yang akan kita tawarkan demi menjadi sumber pendanaan demi ekuitas tadi,” imbuhnya.
Terkait detail penerbitan instrumen keuangan tersebut, pihak Geo Dipa masih menghitung profilisasi aset serta lokasi pasar penerbitannya.
“Kalau bond, kapan, size-nya berapa, harganya berapa, itu lagi kita bikin perhitungannya. Terbit di mana, itu juga lagi kita bikin. Nah, lalu apakah itu digunakan cuma satu konsesi atau multi konsesi? Itu lantaran sifatnya bond merupakan profilnya Geo Dipa, dapat jadi ya kita taruh apa prospektusnya apa, bila kita taruh Dieng Patuha ya berarti kita cuma pakai demi Dieng Patuha saja,” tambah Yudistian.
Selama ini, dalam menggarap proyek-proyek ketenagalistrikan panas bumi bagaikan pembangunan Dieng Unit 2 dan Patuha Unit 2, Geo Dipa mengandalkan kombinasi Penyertaan Modal Negara (PMN) sebagai ekuitas dan pinjaman dari lembaga pembiayaan pembangunan bagaikan Asian Development Bank (ADB).
“Geo Dipa ini demi proyek yang pada hari ini, yang Dieng 2 Patuha 2 yang sedang konstruksi, yes, kami dapat PMN dari pihak pemerintah. Dari APBN nilainya sekitar Rp 1,3 triliun. Itu sebagai equity demi pendampingan pinjaman dari ADB. Jadi kan biasa bila kita minjam, kita wajib ada duit sendiri kan? Nah, duit sendiri itu diberikan oleh pihak pemerintah dalam bentuk PMN demi menjadi pendamping dana dari ADB,” terangnya.
Namun demikian, bersama arahan dari pihak pemerintah agar BUMN dapat tumbuh mandiri secara finansial dan mampu mencari alternatif modal secara mandiri tanpa terus-menerus bergantung pada APBN, penerbitan green bond dinilai menjadi instrumen teramat ideal untuk Geo Dipa demi mengakselerasi potensi panas bumi nasional yang pada saat ini baru termanfaatkan sekitar 11% dari total potensi 24 Gigawatt.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

