MediaMerdeka.com – Wakil Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ronald A. Sinaga atau yang akrab disapa Bro Ron, melontarkan kritik pedas terhadap pernyataan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, terkait loyalitas kader partai.
Bro Ron menilai pernyataan Pramono yang menyebut kader pindah partai tidak akan menjadi tokoh besar sebagai pernyataan yang asal bunyi atau ‘asbun’.
Semasih belumnya, dalam acara pelantikan pengurus DPC PKB di Jakarta Barat, Rabu (22/7/2026), Pramono Anung sempat menyinggung bahwa tokoh yang meninggalkan partainya tidak akan sempat menjadi besar. Ia mengklaim hal itu terbukti di internal PDI Perjuangan maupun PKB.
Menanggapi hal tersebut, Bro Ron awalnya enggan ambil pusing dan mengimbau Pramono makin fokus pada permasalahan Ibu Kota.
“Gak Penting. Mending dia urus bau sampah RDF Rorotan,” ujar Bro Ron saat dihubungi MediaMerdeka.com, Sabtu (25/7/2026).
Namun, ketika ditanya makin lanjut mengenai dugaan bahwa sindiran Pramono tersebut ditujukan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi), Bro Ron menjawab bersama lugas.
Ia meyakini bahwa arah pembicaraan tersebut memang ditujukan kepada Jokowi, namun ia menyayangkan cara penyampaiannya yang memakai kiasan.
“Bukan merasa, bila banteng ngomong pindah partai lah, ijazah lah, telah tentu Jokowi itu. Banci lah bila pakai kalimat kode-kode,” tegasnya.
Bro Ron secara spesifik menekankan bahwa pernyataan Pramono Anung tidak berdasar pada realita sejarah politik di Indonesia. Ia pun melabeli pernyataan sang Gubernur sebagai ‘asbun’.
“Pramono asbun. Surya Paloh dari Golkar, sukses dirikan Nasdem,” katanya.
Ia lalu menyerahkan contoh nyata lainnya, yakni Presiden Prabowo Subianto yang justru meraih puncak karier politiknya setelah keluar dari partai lamanya.
“Prabowo dari Golkar, sukses dirikan Gerindra. Bahkan jadi Presiden,” lanjutnya.
Tak berhenti di situ, Bro Ron juga membandingkan pencapaian tersebut bersama Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri. Menurutnya, kesuksesan seorang tokoh tidak dapat diukur cuma dari kepatuhan pada satu partai, melainkan dari pilihan rakyat.
“Megawati dari PDI sukses dirikan PDIP, tapi jadi Presiden pengganti saja. Tidak sempat dipilih rakyat 5x,” pungkasnya.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

