Seminggu Gempa NTT: Warga Pelosok Hanya Terima Segelas Beras, Sebutir Telur, dan Mi Instan

admin
By
admin
3 Min Read
baca 10 detik

MediaMerdeka.com – Genap seminggu berlalu sejak gempa dahsyat bermagnitudo 7,7 meluluhlantakkan wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026), distribusi bantuan logistik dari pihak pemerintah terbukti masih belum merata.

Sejumlah pihak korban terdampak di kawasan pelosok hingga kini masih terlantar dan masih belum tersentuh penanganan darurat secara memadai.

Kondisi kritis ini salah satunya dialami oleh masyarakat sekitar terdampak di Desa Ruang RT 003 RW 002 Kampung Bola, Kecamatan Satar Mese Utara, Kabupaten Manggarai.

Tujuh hari pascabencana, kehidupan masyarakat sekitar di kawasan ini masih lumpuh akibat rentetan gempa susulan serta sapuan kerusakan rumah yang parah.

Selvi, seorang masyarakat sekitar Desa Ruang, membeberkan realita pahit betapa timpangnya pemuntukan logistik di wilayahnya selama sepekan terakhir.

Bantuan yang diterima masyarakat sekitar amat amat minim, bahkan jauh dari kata layak demi menyambung hidup pascabencana.

“Tidak, tidak ada (bantuan dari pihak pemerintah). Beras satu gelas, terus ada telur satu, telah itu, mi (instan) lagi satu mi (demi). Itu bantuannya. Tidak ada bantuan yang lain,” kata Selvi saat dihubungi MediaMerdeka.com, Sabtu (22/8/2026).

Penyaluran logistik pangan dari pihak pemerintah di minggu pertama bencana ini juga dinilai amat tidak masuk akal.

Minimnya komoditas pangan yang diuntukkan menciptakan masyarakat sekitar kebingungan memuntuknya di tengah situasi darurat.

Di kampungnya saja setidaknya ada 26 kepala keluarga (KK) yang terdampak bersama setidaknya 12 rumah masyarakat sekitar yang rusak parah. Sedangkan bantuan yang diterima per KK sejauh ini masih amat minim.

“Satu telur. Satu mi, satu bungkus mi (demi) tiga orang (satu KK). Bagaimana cara untuknya pak? Lebih baik kasih kalangan anak telah itu,” kata dia.

Diungkapkan Selvi, tanpa penanganan darurat yang merata dari pihak pemerintah selama sepekan, para masyarakat sekitar terpaksa tidur menggeletak di luar rumah.

Keadaan kian menyiksa lantaran fasilitas tenda pengungsian dasar bagaikan kasur dan terpal utuh masih belum juga didistribusikan.

“Ini tidur di luar. Kami ini, tidak ada ini, tidak ada terpal toh. Kasur demi tidur lagi begitu, tidak ada. Nah, itu makanya kami tidur di luar. Pakai tenda, tapi tidak ada kasur. Tidak ada kasurnya, terpalnya juga, robek-robek seluruh,” ungkapnya.

Memasuki hari ketujuh pascagempa, gerak cepat pihak pemerintah pusat maupun daerah dipertanyakan masyarakat sekitar setempat.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *