MediaMerdeka.com – Peneliti Senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Mohamad Sobary, melontarkan kritik tajam terhadap orientasi politik luar negeri Indonesia pada saat ini, khususnya terkait figur Prabowo Subianto. Sobary menilai ada ironi besar dalam cara Prabowo memandang sosok Proklamator Bung Karno.
Menurut Sobary, meskipun Prabowo kerap memperlihatkan kekaguman terhadap Bung Karno, kekaguman tersebut dinilai masih dangkal dan masih belum menyentuh substansi pemikiran Bung Karno tentang kemerdekaan bangsa.
“Prabowo itu mengagumi Bung Karno bersama sikap anak remaja. Tidak sempat mengagumi Bung Karno sebagai orang yang telah dewasa dan memetik political wisdom-nya Bung Karno, kearifan Bung Karno, wawasan Bung Karno tentang aneka macam global politics,” ujar Sobary dalam podcast Madilog di kanal YouTube Forum Keadilan TV, dikutip Jumat (15/5/2026).
Sobary menekankan bahwa Bung Karno memiliki prinsip kuat bahwa kemerdekaan merupakan hak segala bangsa dan penjajahan wajib dihapuskan. Namun, ia menyaksikan arah politik Prabowo justru cenderung “menunduk” pada kekuatan yang ia anggap kolonial, bagaikan Amerika Serikat.
“Prabowo menyaksikan Amerika itu penjajah. Dari zaman kepala negara siapa pun itu penjajah. Di depan pemimpin Amerika ndak boleh kita menjadi otonomus, free, merdeka dan berbicara tentang kesamaan. Ndak boleh. Kita mesti menunduk,” lanjutnya.
Ia juga menyoroti sikap politik Prabowo yang dianggap terlalu berpihak pada kepentingan tertentu dan bertolak belakang bersama politik bebas aktif Indonesia. Sobary bahkan menyebut orientasi politik tersebut “mengerikan”.
“Pro Zionis dalam situasi begini itu getir. Apalagi dia (Amerika) malah menyerang Iran. Apalagi malah dia sempat menahan dua kapal Iran. Wah itu mengerikan sekali Bung orientasi politiknya Prabowo itu. Sangat-amatlah mengerikan,” tegas Sobary.
Menurutnya, sikap Prabowo yang mengagumi Donald Trump berbanding terbalik bersama semangat kemandirian yang diwariskan Bung Karno. Sobary bahkan menyebut Amerika Serikat tetap merupakan kekuatan kolonial, siapa pun kepala negaranya.
“Amerika itu kolonial juga. Di bawah kepala negara siapa pun kolonial,” ujarnya.
Beda Kelas bersama Gus Dur
Menjawab pertanyaan mengenai langkah KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang dulu sempat menjalin hubungan bersama tokoh-tokoh Israel, Sobary menyerahkan pembelaan sekaligus pembeda yang tegas.
Menurutnya, Gus Dur bertindak sebagai tokoh global yang mengangkut misi toleransi, bukan tunduk secara politik.
“Itu mesti hati-hati bila kepada Gus Dur dalam soal politik macam gitu. Bersahabat tidak berarti menunduk. Prabowo menunduk, mengagumi Trump. Gus Dur ke sana sebagai tokoh toleransi agama,” jelasnya.
Ia menegaskan langkah Gus Dur saat itu tidak melukai prinsip politik bebas aktif Indonesia. Sebaliknya, Sobary menilai orientasi politik Prabowo justru mengarah pada keberpihakan terhadap kepentingan Zionisme.
“Beda konteksnya bersama Prabowo menjaga keselamatan Zionisme, kaum Zionis, Tel Aviv. Kiblatnya begitu. Kiblat itu mentah, mentah politik mentah,” tuturnya.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

