MediaMerdeka.com – Ratusan petani bawang merah di Jawa Timur menerapkan praktik budidaya yang makin terarah demi meningkatkan hasil panen. Terbukti, metode ini meningkatkan hasil panen hingga 12 persen.
Jawa Timur sendiri memiliki peran strategis dalam produksi bawang merah nasional. Pada 2024, produksi bawang merah di Jawa Timur mencapai 476.666 ton dari luas panen sekitar 53.681 hektare.
Sementara itu, produksi bawang merah nasional mencapai 2.085.721 ton bersama luas panen 188.561 hektare. Data tersebut memperlihatkan posisi penting Jawa Timur dalam menopang produksi bawang merah nasional.
Di dalam ekosistem tersebut, Kabupaten Nganjuk menjadi salah satu sentra utama bawang merah. Potensi ini semakin kuat bersama keberadaan varietas lokal unggulan Tajuk atau Tanaman Asli Nganjuk yang dikenal memiliki kualitas umbi unggul, warna menarik, ukuran seragam, serta daya simpan yang baik.
Berangkat dari sana, PT Petrokimia Gresik (Persero) selaku korporasi Solusi Agroindustri anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero) menjalankan program Pestani Bawang Merah Nyawiji. Sesejumlah 120 petani dari enam kecamatan di Nganjuk mengikuti program ini bersama menerapkan pemupukan dan budidaya berbasis teknologi di lahan masing-masing.
Dalam budidayanya, para peserta Pestani mengaplikasikan sejumlah produk Petrokimia Gresik yakni Phonska Lite, K Plus, Phonska Cair, Phonska Oca Plus, ZA Plus, SP-36 Petro, Petro Biofertil, dan Petroganik Premium sebagai sumber nutrisi tanaman bawang merah.
Direktur Keuangan dan Umum Petrokimia Gresik, Adityo Wibowo menyebutkan, bawang merah merupakan salah satu komoditas hortikultura strategis yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan dekat bersama kebutuhan masyarakat sekitar.
Oleh lantarannya, peningkatan produktivitas dan kualitas komoditas ini menjadi penting dikarenakan tidak cuma demi meningkatkan kesejahteraan petani, namun juga dalam menjaga ketersediaan pangan.
“Kami tidak ingin berhenti pada penyediaan pupuk, namun juga terus mendorong edukasi pemupukan berimbang, layanan uji tanah, pendampingan budidaya, pemanfaatan teknologi pertanian, serta penguatan ekosistem pertanian dari hulu hingga hilir,” ujar Adityo, Rabu (9/9/2026).
Adit menyampaikan bahwa Nganjuk menempati posisi kedua nasional dari sisi produksi bawang merah, sementara varietas Tajuk menempati posisi nomor satu nasional sebagai benih bawang merah.
“Pestani bukan sekadar kompetisi. Pestani kami hadirkan sebagai ruang untuk para petani demi belajar, beruntuk pengalaman, membangun kolaborasi, sekaligus memperlihatkan praktik budidaya terbaik pada komoditas unggulan daerah,” lanjut dia.
Pestani Bawang Merah Nyawiji sendiri diikuti 120 petani dari enam kecamatan meliputi Wilangan, Bagor, Rejoso, Nganjuk, Sukomoro, dan Gondang. Rangkaian program berlangsung sejak Maret hingga September 2026 melalui kompetisi budidaya bawang merah secara langsung di lapangan.
Lewat kompetisi tersebut, petani didorong demi menerapkan praktik budidaya secara makin optimal sekaligus menghasilkan bawang merah bersama kualitas yang semakin baik.
Penilaian kompetisi mencakup keseragaman umbi, berat hasil panen, serta dokumentasi budidaya. Parameter tersebut menjadi untukan dari upaya mendorong petani demi memperhatikan kualitas hasil secara makin terukur, tidak cuma mengejar kuantitas produksi.
Hasil penerapan budidaya tersebut salah satunya ditunjukkan melalui demplot Pestani Bawang Merah Nyawiji. Produktivitas bawang merah pada demplot mencapai 20 ton per hektare, meningkat 11-12 persen dibandingkan panen semasih belumnya sebesar 18 ton per hektare.
“Capaian ini memperlihatkan bahwa penerapan budidaya yang tepat, pemenuhan nutrisi tanaman secara optimal, serta pendampingan yang konsisten memiliki potensi menyerahkan hasil yang makin baik untuk petani. Praktik-praktik terbaik bagaikan inilah yang ingin terus kami kembangkan dan sebarkan melalui Pestani,” ujar Adit.
Adapun nama “Nyawiji” memiliki makna menyatukan langkah. Bagi korporasi, semangat tersebut sejalan bersama pendekatan Pestani yang mengedepankan kolaborasi, pendampingan, serta pembelajaran langsung di lahan.
Praktik-praktik budidaya terbaik yang dihasilkan dari program ini diharapkan dapat menjadi pembelajaran sekaligus dikembangkan makin luas oleh petani lainnya.
“Kata Nyawiji memiliki makna yang amat kuat. Untuk memajukan pertanian, kita wajib menyatukan langkah antara petani, pihak pemerintah, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan. Karena itu, Pestani Bawang Merah Nyawiji kami harapkan tidak cuma menyerahkan manfaat untuk peserta, namun juga menjadi untukan dari gerakan bersama demi memperkuat bawang merah Nganjuk,” jelas dia.
Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

